Di tengah gejolak perang dan krisis iklim yang mengacaukan pasokan pangan dunia, menanam sendiri jadi langkah paling masuk akal. Ketahanan bangsa dimulai dari apa yang kita tanam, bukan dari apa yang kita impor.


KOSONGSATU.ID—Dunia tengah dilanda gelombang krisis yang tak kunjung surut. Di balik layar berita yang kita lihat sehari-hari—perang, inflasi, perubahan iklim—tersimpan ancaman yang lebih senyap namun mematikan: krisis pangan global.

Laporan Global Report on Food Crises 2025 menggambarkan keadaan yang suram. Sekitar 295 juta jiwa di 53 negara kini hidup dalam bayang-bayang kelaparan akut.

Dua juta di antaranya bahkan berada dalam fase yang disebut “katastrofik”—tingkat kelaparan yang bisa memicu kematian massal—seperti yang kini terjadi di Gaza, Sudan, dan Sudan Selatan.

FAO dan WFP menyebut ada 13 wilayah rawan pangan ekstrem di dunia saat ini, termasuk Mali, Haiti, dan Afghanistan. Konflik bersenjata dan cuaca ekstrem telah menjadi kombinasi mematikan bagi keberlangsungan pangan.

Konflik, menurut data FAO, telah mengguncang kehidupan 140 juta orang pada tahun 2024 saja. Sementara perubahan iklim yang semakin tak terduga—dari banjir besar hingga kekeringan panjang—telah memengaruhi sedikitnya 96 juta jiwa.

Ketika bencana alam dan kekerasan bersenjata merobek-robek fondasi pangan dunia, masalah diperparah oleh inflasi global dan nilai tukar yang terus merosot, mendorong 59 juta orang lainnya ke ambang krisis pangan.

Di sisi lain, harga-harga kebutuhan pangan terus merangkak naik.

Indeks Pangan FAO pada Mei 2025 tercatat sebesar 127,7—hanya sedikit turun dari bulan sebelumnya, tapi masih 6 persen lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Bank Dunia memang memperkirakan penurunan harga komoditas sebesar 7 persen tahun ini, namun mereka sendiri mengakui: ketidakpastian inflasi dan konflik global membuat proyeksi ini rapuh.

Lantas, apa yang bisa dilakukan sebuah bangsa dalam situasi seperti ini?

Dari Ladang ke Lumbung: ‘Jalan Ninja’ Jiwa Muda Shiddiqiyyah

Di tengah gelombang yang meluluhlantakkan ketahanan pangan global, sekelompok orang-orang berjiwa muda muda dari Tarekat Shiddiqiyyah memilih tidak berpangku tangan. Di bawah panji Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) dan Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia, mereka meluncurkan sebuah program sederhana namun revolusioner: menanam ubi ungu (uwi).

Bukan sekadar proyek pertanian. Ini adalah pernyataan: bahwa dalam dunia yang tak pasti, ketahanan pangan tidak bisa terus bergantung pada mekanisme pasar global atau janji politik belaka. Ia harus dimulai dari tanah sendiri. Oleh tangan sendiri.

Mengapa ubi ungu?

Karena tanaman ini tahan banting. Ia tak butuh pupuk sintetis. Ia bisa hidup di lahan marginal.

Ia tahan terhadap hama. Dan yang paling menarik, ia bisa disimpan dalam tanah hingga dua tahun tanpa membusuk, sekaligus dapat dipanen setiap tiga bulan sekali.

Kandungan gizinya pun tidak main-main: rendah gula, tinggi serat, dan mengandung karbohidrat kompleks yang dibutuhkan tubuh. Dalam konteks krisis, uwi adalah emas yang tumbuh di tanah.

Lebih dari Sekadar Pangan: Ini Tentang Martabat

Apa yang dilakukan OPSHID maupun PCTA bukan hanya upaya menanam umbi-umbian. Ini adalah gerakan untuk mengembalikan kedaulatan pangan ke pangkuan rakyat.

Ubi ungu bukanlah tanaman asing bagi nenek moyang Nusantara. Sebelum beras dijadikan pangan utama oleh kolonial Jepang dan Belanda, masyarakat nusantara hidup dari singkong, talas, dan uwi. Maka, inisiatif ini juga menjadi bentuk resistensi budaya terhadap sejarah panjang penjajahan pangan.

Di berbagai kabupaten, gerakan ini sudah dimulai. Ribuan lubang tanam telah dibuka, puluhan ribu bibit uwi telah menyebar. Di setiap hektare yang digarap, ada harapan yang ditanam bersama umbinya: harapan bahwa bangsa ini bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Strategi dari Akar Rumput: Saatnya Pemerintah Menyambut

Langkah OPSHID dan PCTA harus dibaca sebagai strategi yang sejajar—bahkan melampaui—banyak kebijakan pangan formal.

Saat dunia berbicara tentang swasembada dan ketahanan, OPSHID dan PCTA sudah melakukannya. Bukan dengan wacana, tapi dengan cangkul dan tanah.

Inisiatif seperti ini harus mendapat dukungan. Pemerintah daerah hingga pusat, dinas pertanian, BUMN pangan, hingga lembaga pendidikan, perlu bergandengan tangan untuk:

  • Membantu replikasi program uwi hingga ratusan ribu hektare.
  • Memberikan insentif nyata: dari bantuan bibit, pelatihan metode alami, sistem irigasi sederhana, hingga pembukaan akses pasar.
  • Mengintegrasikan nilai budaya pangan lokal ke dalam kurikulum pendidikan dan kampanye publik.
  • Membangun sistem deteksi dini terhadap gejolak harga dan pasokan pangan berbasis komunitas.

Menanam Harapan di Tanah Sendiri

Krisis pangan bukan lagi wacana masa depan. Ia sudah terjadi, dan terus memburuk.

Jutaan nyawa di berbagai belahan dunia menjadi korban dari sistem pangan yang rapuh dan tergantung pada geopolitik. Indonesia tak boleh menunggu giliran menjadi korban berikutnya.

Apa yang ditanam hari ini akan menjadi penentu apakah bangsa ini masih punya kendali atas makannya esok. Dalam kesunyian ladang-ladang uwi yang tumbuh di desa-desa, kita sedang menyaksikan bentuk paling konkret dari ketahanan nasional—bukan dalam bentuk pasukan bersenjata, tapi dari barisan petani dan pemuda yang memilih percaya pada tanah airnya sendiri.

Gerakan menanam uwi ungu dari Tarekat Shiddiqiyyah adalah contoh nyata bahwa ketahanan dimulai dari rumah sendiri. Dari tanah yang kita cintai, dan dari keberanian untuk bertindak saat yang lain masih merencanakan.

Di tengah tsunami krisis global, mereka memilih menanam. Dan mungkin, aktivitas itulah yang akan menyelamatkan kita semua. ***