Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda dan 97 tahun lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya, OPSHID di seluruh Indonesia—termasuk Bojonegoro—membangun rumah layak huni gratis bagi yang membutuhkan. Bojonegoro ‘memborong’ tiga rumah sekaligus.
KOSONGSATU.ID—Untuk spot Kota Minyak, ada tiga keluarga yang mendapat anugerah tak terduga yang hadir melalui jiwa-jiwa Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa atau OPSHID FKYME.
Ibu Saki di Desa Pohwates, Ibu Sarni di Desa Setren, dan Bapak Wiji di Desa Sumberbendo kini bisa menatap masa depan dari rumah baru yang berdiri kokoh di atas lahan sederhana mereka. Rumah yang lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari peluh, doa, dan semangat gotong royong.
Kisah dari Clingur: Ibu Saki
Bertahun-tahun, Ibu Saki dan anak-anaknya hidup dalam rumah reyot berdinding anyaman bambu. Saat hujan turun, air menetes dari atap yang bolong. Malam hari, angin dingin menerobos tanpa ampun.
“Kalau hujan lebat, kami sering pindah tidur di dapur yang lebih kering,” ucapnya lirih.
Ketika mendengar OPSHID bakal membangun ulang rumahnya, ia tak kuasa menahan air mata. Baginya, rumah baru itu bukan sekadar bangunan, melainkan jawaban atas doa panjang seorang ibu yang ingin melihat anak-anaknya tumbuh dengan lebih layak.
Senyum dari Ngembak: Ibu Sarni
Cerita nyaris serupa muncul dari Dusun Ngembak. Ibu Sarni yang sehari-hari bekerja serabutan, kerap merasa pasrah dengan rumah tuanya yang hampir roboh. Kayu penopang sudah lapuk, dinding retak, dan ia hanya bisa berdoa semoga tidak ambruk.
Ketika pemuda Shiddiqiyyah datang bersama warga setempat, membawa material bangunan, semangat baru seolah tumbuh. “Saya tak pernah membayangkan punya rumah seperti ini. Rasanya seperti mimpi,” kata Sarni dengan mata berbinar.
Harapan dari Brendo: Bapak Wiji
Sementara di Dusun Brendo, Bapak Wiji, ada seorang buruh tani, selama ini hidup dalam keterbatasan. Rumah lamanya berlantai tanah, tanpa kamar yang layak. Ia sering menahan diri untuk tidak mengeluh, karena baginya bisa bekerja di sawah saja sudah cukup untuk bertahan.
Namun, kini, ia bisa berdiri di depan rumah barunya dengan dada tegak. “Inilah berkah yang tak ternilai. Terima kasih, semoga kebaikan ini terus berjalan,” ungkapnya penuh haru.
Gotong-Royong yang Menghidupkan Indonesia Raya
OPSHID menjalankan program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubiina serentak di 17 Provinsi se-Indonesia. Bojonegoro hanyalah salah satu titiknya. Total ada 97 rumah yang dibangun serentak. Bojonegoro mengambil jatah tiga.
Program ini, menurut keterangan organisasi, lahir sebagai jalan syukur kepada Allah Swt. sekaligus ladang pengabdian bagi sesama. Mereka percaya, kebahagiaan sejati ada dalam pelayanan: kepada iman, kemanusiaan, dan alam semesta.
Ketua OPSHID Bojonegoro, Moch Muhlisin, menegaskan bahwa program rumah syukur merupakan wujud rasa syukur sekaligus kepedulian terhadap sesama.
“Program ini adalah amanah dari Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Bapak Kiai Moch. Muchtar Mu’thi, yang dijalankan lewat pintu OPSHID. Semoga rumah-rumah ini membawa berkah dan meringankan beban keluarga penerima,” ujarnya.
M. Asep Awaludin, pengurus DPD OPSHID Bojonegoro, meneguhkan pernyataan itu. Ia menyebut, gotong royong adalah jawaban untuk masalah-masalah hidup yang berat.
“Dengan semangat kebersamaan, kita mampu menyelesaikan persoalan papan atau tempat tinggal yang dihadapi saudara-saudara kita,” katanya.
Lebih dari sekadar rumah, yang hadir di Bojonegoro adalah simbol persaudaraan.
Dinding-dinding itu berdiri dari batu bata yang diangkat bersama, atap terpasang karena tangan-tangan yang bekerja ikhlas, dan senyum keluarga penerima mengalun seirama dengan semangat Indonesia Raya.
Gerakan ini menyimpan pesan sederhana namun mendalam: Indonesia bisa besar bukan hanya karena pembangunan megah dari pemerintah, melainkan juga dari kebersamaan rakyat yang tak segan bahu-membahu.
OPSHID berharap, langkah kecil ini menginspirasi organisasi lain untuk ikut serta. Karena ketika semangat berlomba-lomba dalam kebaikan menyala, maka Indonesia Raya benar-benar hidup dalam dada setiap anak bangsa.***




2 Komentar