Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa stabilitas nilai tukar menjadi kunci menjaga kepercayaan publik dan industri. “BI perlu terus menjaga volatilitas,” ujar Lukman, dikutip dari ANTARA, Senin (7/4/2026).
ADB Peringatkan Risiko Stagflasi
Asian Development Bank (ADB) dalam laporan Asian Development Outlook April 2026 yang dikutip Indo Premier Sekuritas, Jumat (10/4/2026), memproyeksikan ekonomi Asia Tenggara masih dapat tumbuh 4,7 persen. Namun, syaratnya konflik Timur Tengah harus segera mereda.
“Risiko stagflasi meningkat jika konflik berkepanjangan dan harga energi melonjak,” tulis ADB dalam laporannya.
Stagflasi adalah kondisi ekonomi paling mengerikan: pertumbuhan stagnan atau melambat, tetapi inflasi justru meroket. Ini pernah terjadi pada krisis minyak 1970-an.
Inflasi Inti Terancam, Daya Beli Bisa Tergerus
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, pada Jumat (10/4/2026) menyoroti dampak kenaikan harga energi terhadap inflasi inti. Menurutnya, peningkatan biaya input yang persisten akan menekan daya beli masyarakat.
“Konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang lebih persisten, dengan peningkatan biaya input yang dapat menekan inflasi inti,” ungkap Josua.
Pelaku pasar juga mencermati risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Maret 2026. Sejumlah pejabat bank sentral AS mulai membuka pendekatan “dua arah” dalam penentuan suku bunga. Kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin diperlukan apabila inflasi tetap berada di atas target.
BI Siapkan Triple Intervention
Bank Indonesia dalam pernyataan resmi yang dirilis Jumat (10/4/2026) menyatakan akan terus mengoptimalkan instrumen triple intervention (intervensi di pasar spot, DNDF, dan pasar surat berharga negara) untuk menjaga stabilitas rupiah.
Dengan ketidakpastian konflik yang masih tinggi, kolaborasi antara pemerintah dan bank sentral menjadi kunci menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan kurs dan harga energi global. Rupiah diperkirakan akan bergerak dalam kisaran Rp17.000 hingga Rp17.125 per dolar AS dalam jangka pendek.***





Tinggalkan Balasan