Kereta pusaka Kiai Rata Pralaya bergerak perlahan, seakan sengaja memperlambat waktu agar rakyatnya sempat mengucap perpisahan. Delapan bregada prajurit mengawal dengan langkah yang khidmat, seragam mereka basah oleh keringat dan mungkin juga air mata yang tak sempat diusap. Di sepanjang jalan, bisik-bisik lirih terdengar berulangkali, seperti mantra yang dipanjatkan beramai-ramai: “Sugeng tindak, Ngarsa Dalem…”
Presiden Soeharto hadir. Para duta besar negara sahabat hadir. Tetapi yang membuat pemakaman itu abadi dalam ingatan, bukan kehadiran para pembesar, melainkan lautan manusia biasa yang datang tanpa diundang, yang berjalan kaki bermil-mil hanya untuk mengantar seseorang yang mereka anggap bukan sekadar penguasa, melainkan bapak.
Saptarengga
Di Astana Saptarengga, jenazah disemayamkan di antara dua raja pendahulunya: Hamengkubuwono VII dan Hamengkubuwono VIII. Ketika peti diturunkan perlahan ke liang yang telah disiapkan, para pelayat kembali menengadah ke langit yang basah oleh hujan yang baru saja reda.
Di sanalah ia muncul lagi: lengkung putih menyerupai pelangi, membentang di atas pemakaman para raja Mataram.
Sebagian orang menyebutnya hanya fenomena alam, biasan cahaya, tak lebih. Sebagian yang lain percaya bahwa Teja Bathang telah kembali hadir, mengiringi kepulangan seorang raja menuju keabadian—sebagaimana ia dipercaya selalu hadir setiap kali seorang penguasa tanah Jawa menyelesaikan perjalanannya di dunia.
Entah kebetulan, entah bagian dari kepercayaan yang telah hidup berabad-abad, kisah ini tetap menjadi salah satu fragmen paling menyentuh dalam sejarah Yogyakarta.
Sebuah kisah tentang langit yang seolah ikut berbicara, tentang tradisi yang menolak mati begitu saja di hadapan zaman modern, dan tentang rakyat yang, pada akhirnya, memilih mengantar pemimpinnya bukan dengan protokol kenegaraan semata, melainkan dengan doa yang tumbuh dari hati yang tulus mencintai.
Sri Sultan Hamengkubuwono IX kelak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia. Namun jauh sebelum gelar itu disematkan negara, rakyat Yogyakarta telah lebih dulu memberinya gelar yang tak tertulis dalam surat keputusan mana pun: seorang bapak yang pulang, diantar oleh langit dan oleh cinta ratusan ribu anaknya. ***




Tinggalkan Balasan