Yogyakarta, hari itu, sedang berada di penghujung musim kemarau. Tiga bulan tanah-tanahnya mengering, sawah-sawah menanti hujan yang tak kunjung datang.
Maka, ketika jenazah tiba—6 Oktober di Jakarta, 7 Oktober disemayamkan di Bangsal Kencono Keraton Yogyakarta—dan ketika prosesi pemakaman berlangsung keesokan harinya, hujan yang turun terasa seperti sesuatu yang bukan sekadar cuaca. Ia turun juga di Washington, pada hari jenazah diberangkatkan dari Kedutaan Besar menuju Jakarta—kota yang tak biasa hujan di bulan itu, tiba-tiba basah, seolah langit di dua benua sepakat untuk berduka bersama.
Di Alun-alun Utara, pohon beringin tua bernama Kyai Wijayandaru—saksi bisu keraton selama entah berapa generasi—tumbang tanpa sebab yang jelas, seolah ikut ambruk menahan beban duka yang terlalu besar untuk ditanggung sebatang pohon.
Lalu di langit Imogiri, pagi menjelang pemakaman, sesuatu yang lain muncul: sebuah lengkung putih, teja aneh yang membentang sunyi di atas Pajimatan. Para abdi dalem saling berpandangan. Tak seorang pun berani memastikan maknanya keras-keras.
Namun, bisik-bisik tentang Teja Bathang, pertanda yang diwariskan turun-temurun bahwa seorang raja tengah menempuh perjalanan pulang menuju keabadian, kembali hidup di antara mereka.
Ratusan ribu orang. Angka itu bukan hiperbola seorang pencerita, melainkan catatan yang kelak disebut sebagai pemakaman terbesar sepanjang abad ke-20, diukur dari jumlah manusia yang menyertainya.
Mereka memenuhi jalan dari Keraton Yogyakarta hingga bukit-bukit kering di Imogiri. Ada yang berdiri berjam-jam di bawah langit yang mendung. Ada yang memanjat pohon agar bisa menyaksikan kereta jenazah raja mereka, melintas. Ada yang menitikkan air mata begitu Gending Monggang mengalun, mengantar perjalanan terakhir seorang raja yang selama hidupnya lebih memilih mengabdi ketimbang memerintah.
Seorang wanita tua di dekat Bandar Udara Adisucipto hanya bisa mengisak, memanggil-manggil nama Tuhan di sela tangisnya—seolah kesedihan yang ia rasakan terlalu besar untuk kata-kata biasa.




Tinggalkan Balasan