“JANGAN pernah mengabaikan Teja Bathang,” begitu pesan yang diwariskan orang-orang tua di tanah Jawa. Konon, ketika pelangi putih itu membelah langit, seorang raja sedang bersiap meninggalkan dunia.

KOSONGSATU.ID – Tiga abad silam, ketika Sultan Agung mangkat, tanah Jawa mencatat suara gemuruh yang syahdu. Bukan dari gunung, atau gempa. Justru yang datang adalah kesunyian yang lebih dahsyat dari segala gemuruh: kesunyian yang kelak diisi oleh ratusan ribu langkah kaki.

Dua Oktober 1988. Di sebuah rumah makan bernama Hunan, di Rockville, Maryland, Sri Sultan Hamengkubuwono IX menghabiskan makan siangnya seperti biasa. Sejak berangkat dari Jakarta pertengahan September—singgah dahulu di Tokyo, lalu menyeberang ke New York—tak ada yang mencemaskan kesehatannya.

Bahkan ketika ia menjalani pemeriksaan di Rumah Sakit Walter Reed beberapa hari sebelumnya, dokter tak menemukan sesuatu yang perlu ditangani segera. Ia memang masih duduk di kursi roda, tapi wajahnya tenang, langkahnya—meski dibantu—tak menunjukkan tanda-tanda perpisahan yang mendekat.

Sore itu pukul lima, di kamarnya di Hotel Embassy Row, sesuatu berubah. Ia muntah-muntah. Dadanya terasa nyeri. Lima belas menit kemudian, telepon darurat berdering di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia. Ambulans meluncur membelah jalanan Washington yang mulai temaram.

Pukul 17.45, di ruang gawat darurat Rumah Sakit George Washington, para dokter mendiagnosis serangan jantung. Mesin-mesin dipasang, tangan-tangan bekerja secepat yang bisa dilakukan tangan manusia.

Namun waktu, kali ini, tak bisa dibujuk. Pukul 20.05, waktu Washington, Gusti Raden Mas Dorojatun—Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Sultan Yogyakarta yang kesembilan, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Pramuka Indonesia—mengembuskan napas terakhirnya.

Kala itu usianya 76 tahun.

Di ruang lain, di rumah duka Ives Pearson di Virginia, jenazahnya kelak disemayamkan sebelum pulang ke tanah kelahirannya.

Kabar kepergian itu sampai ke Jakarta melalui istrinya, Kanjeng Raden Ayu Nindyokirono—akrab disapa Norma. Pukul 07.45 waktu Washington, suaranya sampai di telepon, terisak, hanya mengucap dua kata yang membuat gagang telepon di seberang sana ikut gemetar: bapak sampun wangsul.

Yogyakarta, hari itu, sedang berada di penghujung musim kemarau. Tiga bulan tanah-tanahnya mengering, sawah-sawah menanti hujan yang tak kunjung datang.

Maka, ketika jenazah tiba—6 Oktober di Jakarta, 7 Oktober disemayamkan di Bangsal Kencono Keraton Yogyakarta—dan ketika prosesi pemakaman berlangsung keesokan harinya, hujan yang turun terasa seperti sesuatu yang bukan sekadar cuaca. Ia turun juga di Washington, pada hari jenazah diberangkatkan dari Kedutaan Besar menuju Jakarta—kota yang tak biasa hujan di bulan itu, tiba-tiba basah, seolah langit di dua benua sepakat untuk berduka bersama.

Di Alun-alun Utara, pohon beringin tua bernama Kyai Wijayandaru—saksi bisu keraton selama entah berapa generasi—tumbang tanpa sebab yang jelas, seolah ikut ambruk menahan beban duka yang terlalu besar untuk ditanggung sebatang pohon.

Lalu di langit Imogiri, pagi menjelang pemakaman, sesuatu yang lain muncul: sebuah lengkung putih, teja aneh yang membentang sunyi di atas Pajimatan. Para abdi dalem saling berpandangan. Tak seorang pun berani memastikan maknanya keras-keras.

Namun, bisik-bisik tentang Teja Bathang, pertanda yang diwariskan turun-temurun bahwa seorang raja tengah menempuh perjalanan pulang menuju keabadian, kembali hidup di antara mereka.

Ratusan ribu orang. Angka itu bukan hiperbola seorang pencerita, melainkan catatan yang kelak disebut sebagai pemakaman terbesar sepanjang abad ke-20, diukur dari jumlah manusia yang menyertainya.

Mereka memenuhi jalan dari Keraton Yogyakarta hingga bukit-bukit kering di Imogiri. Ada yang berdiri berjam-jam di bawah langit yang mendung. Ada yang memanjat pohon agar bisa menyaksikan kereta jenazah raja mereka, melintas. Ada yang menitikkan air mata begitu Gending Monggang mengalun, mengantar perjalanan terakhir seorang raja yang selama hidupnya lebih memilih mengabdi ketimbang memerintah.

Seorang wanita tua di dekat Bandar Udara Adisucipto hanya bisa mengisak, memanggil-manggil nama Tuhan di sela tangisnya—seolah kesedihan yang ia rasakan terlalu besar untuk kata-kata biasa.

Kereta pusaka Kiai Rata Pralaya bergerak perlahan, seakan sengaja memperlambat waktu agar rakyatnya sempat mengucap perpisahan. Delapan bregada prajurit mengawal dengan langkah yang khidmat, seragam mereka basah oleh keringat dan mungkin juga air mata yang tak sempat diusap. Di sepanjang jalan, bisik-bisik lirih terdengar berulangkali, seperti mantra yang dipanjatkan beramai-ramai: “Sugeng tindak, Ngarsa Dalem…”

Presiden Soeharto hadir. Para duta besar negara sahabat hadir. Tetapi yang membuat pemakaman itu abadi dalam ingatan, bukan kehadiran para pembesar, melainkan lautan manusia biasa yang datang tanpa diundang, yang berjalan kaki bermil-mil hanya untuk mengantar seseorang yang mereka anggap bukan sekadar penguasa, melainkan bapak.

Saptarengga

Di Astana Saptarengga, jenazah disemayamkan di antara dua raja pendahulunya: Hamengkubuwono VII dan Hamengkubuwono VIII. Ketika peti diturunkan perlahan ke liang yang telah disiapkan, para pelayat kembali menengadah ke langit yang basah oleh hujan yang baru saja reda.

Di sanalah ia muncul lagi: lengkung putih menyerupai pelangi, membentang di atas pemakaman para raja Mataram.

Sebagian orang menyebutnya hanya fenomena alam, biasan cahaya, tak lebih. Sebagian yang lain percaya bahwa Teja Bathang telah kembali hadir, mengiringi kepulangan seorang raja menuju keabadian—sebagaimana ia dipercaya selalu hadir setiap kali seorang penguasa tanah Jawa menyelesaikan perjalanannya di dunia.

Entah kebetulan, entah bagian dari kepercayaan yang telah hidup berabad-abad, kisah ini tetap menjadi salah satu fragmen paling menyentuh dalam sejarah Yogyakarta.

Sebuah kisah tentang langit yang seolah ikut berbicara, tentang tradisi yang menolak mati begitu saja di hadapan zaman modern, dan tentang rakyat yang, pada akhirnya, memilih mengantar pemimpinnya bukan dengan protokol kenegaraan semata, melainkan dengan doa yang tumbuh dari hati yang tulus mencintai.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX kelak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia. Namun jauh sebelum gelar itu disematkan negara, rakyat Yogyakarta telah lebih dulu memberinya gelar yang tak tertulis dalam surat keputusan mana pun: seorang bapak yang pulang, diantar oleh langit dan oleh cinta ratusan ribu anaknya. ***