Jepang menjadikan makan siang sekolah sebagai alat pendidikan karakter, gizi, dan disiplin. Metode yang sepertinya relevan untuk evaluasi MBG di Indonesia.


KOSONGSATU.ID — Program makan siang sekolah di Jepang menunjukkan bahwa kebijakan pangan untuk siswa tidak berhenti pada urusan perut kenyang.

Dikutip dari beberapa jurnal internasional, melalui sistem kyushoku, jam makan siang dipakai sebagai bagian dari proses belajar—mulai dari pendidikan gizi, pembentukan disiplin, hingga latihan tanggung jawab sosial.

Di tengah perdebatan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia yang masih berkutat pada kualitas makanan, vendor katering, dan efisiensi anggaran, model Jepang memberi gambaran bahwa makan siang sekolah bisa dirancang sebagai instrumen pendidikan yang utuh. Bukan sekadar distribusi makanan.

Sejak 2005, Jepang memperkuat pendekatan shokuiku atau pendidikan pangan dan gizi. Dalam model ini, siswa tidak hanya menerima makanan, tetapi juga belajar memahami bahan pangan, nilai gizi, serta pentingnya tidak menyisakan makanan.

Makan siang menjadi bagian dari kurikulum hidup sehari-hari.

Itu yang membedakan. Makan siang bukan jeda. Makan siang adalah pelajaran.