Azra menjelaskan bahwa sumber-sumber Cina dan Arab merupakan rujukan paling awal yang mencatat hubungan Timur Tengah-Nusantara. Namun ia mengingatkan, catatan-catatan awal itu bersifat fragmentaris dan punya persoalan keandalan.

Sejarawan dan ahli geografi Arab klasik seperti al-Ya’qubi, Abu Zayd, hingga al-Mas’udi kerap menulis riwayat tentang Nusantara. Sayangnya, sebagian besar informasi mereka berasal dari penuturan lisan para pelaut yang gemar mendramatisasi cerita — lebih tertarik mengisahkan hal aneh dan ajaib ketimbang kondisi geografis atau sosial yang nyata. Akibatnya, sejarawan modern harus bekerja ekstra keras memverifikasi kisah-kisah tersebut.

Tantangan metodologis ini sedikit terobati memasuki periode berikutnya. Pengembara legendaris asal Maroko, Ibnu Bathuthah, memberi uraian yang jauh lebih akurat mengenai kunjungannya ke Nusantara — meski hingga kini sejarawan masih kesulitan mengidentifikasi pasti sejumlah nama tempat kuno dalam catatannya.

Diplomasi Dinasti Tang dan Ekspansi Umayyah

Memasuki abad ke-7 Masehi, hubungan yang awalnya sekadar urusan dagang mulai bergeser ke ranah diplomatik resmi. Dokumen resmi Dinasti Tang berjudul Chiu Tang Shu merekam peristiwa penting pada tahun 31 Hijriah atau 651 Masehi: istana Cina menerima kunjungan dua utusan pertama dari negeri Ta Shih, sebutan bangsa Cina untuk bangsa Arab.

Hanya berselang empat tahun, utusan kedua kembali datang menghadap kaisar. Sumber Cina menyebut pemimpin delegasi itu sebagai Tan-mi-mo-ni, transliterasi dari gelar Amir al-Mu’minin. Delegasi ini menjelaskan kepada Kekaisaran Cina bahwa mereka telah mendirikan negara Islam yang dipimpin tiga penguasa berturut-turut — momentum yang terjadi pada masa pemerintahan Khalifah ketiga, Utsman bin Affan.

Gelombang interaksi ini semakin masif ketika Dinasti Umayyah (661–750 Masehi) memperluas kekuasaannya hingga Persia dan Anak Benua India, mengubah peta maritim dunia secara drastis.

Keberhasilan kaum Muslim menguasai pelabuhan-pelabuhan strategis di sepanjang Teluk Persia hingga Samudra Hindia memberi dorongan baru bagi pelayaran jarak jauh. Sejak era inilah, para pelaut Muslim secara teratur menempuh rute dari Arabia Selatan menuju Timur Jauh — rute pelayaran maritim terpanjang yang pernah ditempuh manusia sebelum bangsa Eropa memulai era penjelajahan samudra pada abad ke-16.