Eling dan waspada — dua kata Jawa yang bisa diterjemahkan sebagai kesadaran diri dan kewaspadaan kritis. Dalam konteks hari ini, keduanya berbunyi seperti panduan digital mindfulness: jeda sebelum berbagi, periksa sebelum percaya, sadari sebelum bereaksi. Bukan kebetulan bahwa praktik-praktik meditasi dan mindfulness yang kini populer di Barat memiliki inti yang serupa dengan apa yang sudah lama dirumuskan dalam tradisi kebatinan Nusantara.

Laku Batin sebagai Terapi Kontemporer

Tradisi Jayabaya mengenal konsep laku batin — perjalanan ke dalam diri sebagai cara menghadapi gejolak di luar. Ada tiga ajaran yang terasa sangat relevan untuk masyarakat yang bergulat dengan adiksi digital.

Pertama, Prawira ing Batin — keteguhan batin dalam menghadapi godaan. Di era dopamin instan dari notifikasi yang tak henti, kekuatan sejati bukan menaklukkan algoritma, melainkan menaklukkan dorongan untuk terus-menerus memeriksa layar.

Kedua, Mratapa — menyepi, atau dalam bahasa masa kini: detoks digital. Bukan pelarian, melainkan pemulihan. Momen ketika frekuensi jiwa manusia tidak tersinkronisasi sepenuhnya dengan mesin, dan pikiran mendapat ruang untuk bernapas.

Ketiga, Andhap Asor — kesahajaan yang melawan budaya pamer. Di tengah kompetisi status yang dimainkan di media sosial setiap hari, nilai kerendahhatian ini terasa subversif dan menyehatkan sekaligus.

Manusia di Hadapan Mesin yang Tanpa Jiwa

Beberapa penafsir kontemporer membaca sejumlah bait Jangka Jayabaya sebagai intuisi tentang teknologi masa depan — tentang kecerdasan yang lahir dari benda mati, tentang kekuatan tak bertubuh yang mendikte perilaku manusia. Terlepas dari perdebatan akademis soal autentisitas penafsiran semacam itu, metaforanya tepat sasaran: algoritma memang tidak punya raga, tapi ia mampu membentuk emosi, opini, bahkan pilihan politik jutaan orang.

Jika manusia kehilangan kesadaran diri di hadapan kekuatan semacam itu, risiko yang dihadapi bukan sekadar kecanduan — melainkan pengosongan kemanusiaan secara perlahan. Empati terkikis. Pikiran menjadi otomatis. Manusia bergerak mengikuti arus yang dirancang oleh kode, bukan oleh nilai.