Kakak gantikan adik. Wanita ber-HP jadul dan alat dengar. Mahasiswa ITB jadi joki. UTBK 2026 menyisakan pertanyaan: siapa dalangnya?
KOSONGSATU.ID — Di balik hiruk-pikuk perjuangan ratusan ribu siswa merebut kursi perguruan tinggi negeri, praktik gelap kembali mencoreng proses seleksi tahun ini. Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) berhasil mengungkap jaringan praktik perjokian UTBK 2026 yang terorganisir di lima provinsi, dengan target nyaris seragam: Fakultas Kedokteran.
Bukan sekadar titip absen. Modus yang digunakan tahun ini menunjukkan peningkatan signifikan—dari pemalsuan identitas lintas tahun hingga penggunaan alat bantu dengar tersembunyi yang terhubung dengan pengirim jawaban di luar ruang ujian.
Dari Gorontalo hingga Jawa Timur, Pola yang Sama
Salah satu titik awal pengungkapan terjadi di Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Sebuah kasus klasik namun mencolok: seorang kakak nekat menggantikan adiknya di bilik ujian. Identitas bocor saat petugas membandingkan foto dokumen dengan wajah asli di layar monitor.
Namun, jauh lebih terstruktur ditemukan di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar). Di sini, petugas mengamankan dua orang wanita yang kedapatan menggunakan HP jadul dan alat bantu dengar. Sinyal kecil dari telinga mereka mengarah pada fakta mengejutkan: ada seseorang di luar ruangan yang membisikkan jawaban.
“Kasus kecurangan yang kami temukan, sekitar 99 persen mengarahkan ke pilihan Kedokteran,” ungkap Pelaksana Tugas Wakil Rektor I Unsulbar, Tasrif Surungan, kepada wartawan, dikutip Kamis (23/4/2026).
Fakta yang Menjadi Lonceng Alarm
Temuan itu langsung menjadi sinyal bahaya. Tidak hanya di Sulawesi, modus serupa terdeteksi di Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Di kedua kampus Jawa Timur ini, oknum melakukan pemalsuan KTP, ijazah, hingga memodifikasi foto pendaftaran agar wajah joki lolos verifikasi face recognition.
Bahkan, seorang joki di Unesa diketahui pernah menjadi peserta atas nama orang lain pada UTBK tahun 2025. Artinya, ia sudah beroperasi setidaknya dua musim ujian berturut-turut.
“Satu Orang untuk Dua Identitas”
Temuan paling ganjil datang dari Unsulbar lagi. Panitia mendapati satu orang yang mengikuti ujian dengan dua identitas berbeda—satu atas namanya sendiri di tahun 2025, dan satu lagi atas nama orang lain di tahun 2026. Modus ini baru terendus setelah sistem pencocokan data lintas tahun berbunyi.




Tinggalkan Balasan