​Survei ini tidak berjalan sendiri. Nira Data juga merilis Indeks Persepsi Demokrasi 2026 yang menjaring opini 94.146 responden dari 98 negara, memperlihatkan bagaimana warga dunia mengukur kualitas demokrasi di lingkungan mereka.

​Isolasi Imbas Tragedi Kemanusiaan

​Perubahan persepsi publik ini tentu memiliki akar yang kuat. Merosotnya reputasi Israel berkaitan langsung dengan memburuknya krisis kemanusiaan di Jalur Gaza. Sejak Oktober 2023, gempuran militer yang berkelanjutan telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina.

​Dunia juga menyoroti tindakan destruktif lainnya, seperti penghancuran infrastruktur sipil yang masif, pengusiran paksa penduduk, hingga taktik pembiaran kelaparan dalam perang. Rentetan peringatan dari pengadilan internasional, pakar PBB, hingga berbagai organisasi hak asasi manusia (HAM) semakin mempertegas pelanggaran hukum internasional yang terjadi. Alhasil, Israel kini menghadapi jurang isolasi internasional yang semakin dalam.

​Efek Domino: Pamor Amerika Serikat Ikut Anjlok

​Menariknya, kemerosotan citra ini memicu efek domino bagi sekutu utamanya, yakni Amerika Serikat. Laporan yang sama menunjukkan bahwa AS kini menduduki peringkat kelima sebagai negara yang paling dipandang negatif. Popularitas Washington di kancah internasional bahkan tergelincir jauh hingga berada di bawah Rusia dan China.

​Anjloknya reputasi AS bermula dari memuncaknya kemarahan publik atas serangkaian kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump. Masyarakat global mengkritik tajam ketegangan Washington dengan sekutu NATO, pemberlakuan tarif dagang yang agresif, polemik terkait Greenland, dan pemotongan bantuan militer untuk Ukraina. Selain itu, keterlibatan aktif AS dalam konflik bersama Israel melawan Iran semakin memperburuk sentimen tersebut.

​Dunia kini menatap Amerika Serikat bukan lagi sebagai pelindung, melainkan sebagai salah satu ancaman global utama yang posisinya berada tepat di belakang Rusia dan Israel.

​Pergeseran sentimen dalam survei Nira Data 2026 mengirimkan pesan tegas dari komunitas internasional. Ketika kebijakan suatu negara mengabaikan nilai kemanusiaan dan merusak stabilitas global, opini publik dunia tidak akan segan mencabut rasa simpati dan kepercayaan mereka. Di era keterbukaan informasi, citra sebuah negara tidak lagi ditentukan oleh narasi sepihak, melainkan oleh aksi nyata mereka di lapangan.***