Riset PPIM: Hanya 1,06 Persen Pesantren Rentan
Sementara itu, riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menemukan hanya 1,06% dari 43.000 pesantren yang tergolong memiliki kerentanan tinggi terhadap kekerasan seksual.
Peneliti PPIM, Windy Triana, menjelaskan kerentanan itu lebih sering dialami santri laki-laki (1,9 persen) dibanding santri perempuan (0,2 persen). “Proteksi lebih banyak diberikan kepada perempuan. Laki-laki dianggap bisa menjaga dirinya sendiri,” ujar Windy pada 8 Juli 2025 lalu.
Budaya maskulinitas beracun dan candaan seksual di kalangan santri laki-laki juga menjadi faktor yang membuat korban enggan melapor. “Padahal itu justru pintu masuk kekerasan,” lanjutnya.
Antara Data dan Distorsi Opini Publik
Para ahli komunikasi menilai, pernyataan influencer tanpa data bisa menimbulkan kerusakan sosial. Noam Chomsky dan Edward S. Herman dalam Manufacturing Consent (1988) menyebut, opini tanpa verifikasi dapat membentuk persepsi publik yang salah.
Jürgen Habermas (1984) menegaskan, ruang publik hanya sehat bila bebas dari distorsi. Namun dalam kasus ini, ruang publik justru dipenuhi sensasi dan tudingan tanpa dasar.
Pierre Bourdieu (1998) bahkan mengingatkan, apa yang terus diulang media bisa menjadi “akal sehat bersama”. Jika pesantren terus dipersepsikan negatif, masyarakat akan menelan stigma itu tanpa berpikir ulang.
Padahal, data membuktikan: pesantren bukan sumber kekerasan, tapi sumber pengetahuan dan perubahan.***




0 Komentar