Reduksi Manusia dalam Kurikulum

Ideologi asing juga tampak dalam kecenderungan mereduksi manusia menjadi sumber daya ekonomi. Pendidikan diarahkan pada daya saing global, kesiapan industri, dan produktivitas tenaga kerja.

Pemikir Brasil Paulo Freire mengkritik pendidikan yang hanya mencetak kepatuhan struktural. Menurutnya, pendidikan semacam itu menghilangkan fungsi pembebasan dan kesadaran kritis.

Nilai gotong royong, keseimbangan hidup, dan etika sosial Nusantara sulit bertahan dalam logika manusia sebagai komoditas.

Bahasa Sejarah yang Menjinakkan

Mata pelajaran sejarah menjadi contoh nyata bagaimana ideologi asing bekerja melalui bahasa. Penjajahan kerap disajikan dengan istilah teknokratis yang menutupi kekerasan struktural.

Filsuf Prancis Michel Foucault menegaskan bahwa bahasa adalah instrumen kekuasaan. Apa yang dilembutkan melalui istilah, akan kehilangan daya kritisnya.

Akibatnya, pengalaman rakyat dan nilai lokal tersingkir dari narasi utama sejarah.

Ancaman terhadap Kedaulatan Nalar

Dampak dari dominasi ideologi asing ini bukan hanya hilangnya pengetahuan lokal, tetapi melemahnya kedaulatan berpikir. Nilai luar diterima sebagai ukuran kemajuan, sementara nilai bangsa sendiri diposisikan sebagai tradisi usang.

Yang berlangsung adalah penjajahan nalar—tanpa tentara, tanpa senjata, namun bekerja efektif melalui pendidikan.

Pendidikan di Titik Pilih

Para akademisi menegaskan bahwa kritik terhadap ideologi asing bukan penolakan terhadap dunia global. Yang dipersoalkan adalah ketimpangan kuasa dalam menentukan nilai apa yang diajarkan dan dianggap sah.

Pendidikan Indonesia kini berada di titik pilih: membiarkan ideologi asing terus membentuk nalar tanpa kritik, atau memulihkan peran pendidikan sebagai ruang penyaring nilai dan pemerdekaan berpikir.—Bersambung

Rujukan

  • Antonio Gramsci. Prison Notebooks.* New York: Columbia University Press, edisi terjemahan Inggris, 1992.
  • Louis Althusser. Ideology and Ideological State Apparatuses.* Dalam Lenin and Philosophy and Other Essays. London: Monthly Review Press, 1971.
  • Michel Foucault. Power/Knowledge.* New York: Pantheon Books, 1980.
  • Paulo Freire. Pedagogy of the Oppressed.* New York: Continuum, 1970.
  • Henry A. Giroux. Theory and Resistance in Education.* South Hadley: Bergin & Garvey, 2001.
  • Henry A. Giroux. On Critical Pedagogy. New York: Bloomsbury Academic, 2011.
  • Snouck Hurgronje. The Achehnese.
  • Leiden: E.J. Brill, 1906. Dokumen klasik kebijakan penjajah Belanda terkait Islam dan pendidikan pribumi.
  • Sartono Kartodirdjo. Pengantar Sejarah Indonesia Baru. Jakarta: Gramedia, 1982.
  • Takisha Shiraishi. An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912–1926. Ithaca: Cornell University Press, 1990.
  • Bonaventura de Sousa Santos. Epistemologies of the South. Boulder: Paradigm Publishers, 2014.
  • Walter D. Mignolo. The Darker Side of Western Modernity. Durham: Duke University Press, 2011.
  • Tilaar, H.A.R. Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004.
  • Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Dokumen Kurikulum Nasional dan Profil Pelajar Pancasila. Jakarta, berbagai edisi.

Catatan Editorial