Lewat sebuah usaha kecil produksi handle pintu, OPSHID Pati membiayai pembangunan rumah syukur layak huni bagi bocah Calista Sherly dan neneknya. Dan dalam waktu enam hari, rumah gratis itu sudah berdiri sekitar 50 persen.
KOSONGSATU.ID–Sejak bayi ditinggal ibu dan ayah, Calista hanya punya nenek yang bekerja sebagai buruh tani. Rumah reyot mereka kini dikonversi menjadi layak huni, berkat gotong royong Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) Pati.
Calista Sherly Anggelin, bocah mungil berusia lima tahun yang akrab disapa Sherly, menjalani hidup jauh dari kata mudah. Sejak berusia tiga bulan, ia kehilangan ibunda tercinta. Ayahnya pun pergi entah ke mana, tak pernah kembali. Hidup Sherly hanya bertumpu pada sang nenek, Ibu Legi, yang setia mendampingi cucunya dalam suka dan duka.
Setiap hari, Ibu Legi berangkat ke sawah sebagai buruh tani. Upahnya tak seberapa, tapi cukup untuk sekadar bertahan hidup. Dalam kesederhanaan itu, ia tetap berusaha memberikan kasih sayang penuh untuk Sherly, agar sang cucu tumbuh tanpa merasa kekurangan cinta.
Kehidupan Sherly dan neneknya berlangsung di rumah sederhana yang jauh dari kata layak. Lantai tanah dingin, dinding bata yang belum diplester, atap seng yang menyengat saat siang, dan kamar tanpa jendela menjadi pemandangan sehari-hari.
Rumah itu pernah mendapat bantuan pemerintah, tapi kondisinya tetap jauh dari nyaman.

Gotong Royong untuk Indonesia Raya
Melihat kondisi ini, OPSHID tergugah. Bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda dan 97 tahun lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya, organisasi ini memutuskan untuk turun tangan.
Mereka merenovasi rumah Sherly hingga benar-benar layak huni. Dinding diperbaiki, atap diganti, kamar diberi jendela, dan rumah kecil itu dikonversi menjadi tempat tinggal yang nyaman.
Rumah Sherly dan neneknya ini adalah salah satu dari 97 rumah yang dibangun setentak oleh OPSHID di 17 provinsi, dengan tajuk Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubina.
Ketua DPD OPSHID FKYME Pati Legiyanto menegaskan, proyek ini bukan sekadar membangun rumah, aksi ini adalah bentuk nyata dari semangat gotong royong yang diwariskan para pendiri bangsa. Semangat bahwa Indonesia besar bukan karena kekayaan semata, melainkan karena rasa peduli dan kebersamaan.
Menariknya, pembangunan rumah berukuran sekitar 45 meter persegi itu berjalan sangat akas: sudah mencapai 50 persen dalam waktu 6 hari—sejak dimulai pada 20 September 2025
Handle Pintu Jadi Sumber Pembiayaan
Menurut Legiyanto, salah satu sumber pembiayaan pembangunan rumah syukur ini adalah hasil usaha kecil yang ia jalani, yakni memproduksi handle pintu kayu jati bermerek Joyo Legi.
“Dengan handle kayu jati, semoga kita bisa kembali ke jati diri. Sebagian hasil penjualan saya alokasikan untuk perjuangan, termasuk mendukung Rumah Syukur di Pati,” ujarnya.

Legiyanto mengaku melewati jalan terjal sebelum bisa menyalurkan dana untuk kegiatan sosial. Ia pernah bangkrut ketika banyak perusahaan mebel asing di Jepara dan Yogyakarta gulung tikar pada 2007. Tiga tahun lamanya ia menganggur, menghabiskan sisa tabungan untuk hidup sehari-hari.
Titik balik datang pada 2010. Dari wejangan yang ia terima, semangat baru tumbuh dan ia merintis kembali usaha di bidang logam dan kayu. Kini, lewat produk handle pintu kayu jati, ia tak hanya menopang keluarga, tapi juga ikut membiayai kegiatan sosial seperti pembangunan Rumah Syukur.
Kisah Sherly, Ibu Legi, dan Legiyanto menggambarkan bahwa gotong royong bisa lahir dari mana saja. Bahkan dari usaha kecil yang terus bertahan, hingga mampu memberi arti lebih besar bagi sesama.***
Bagi yang berminat dengan handle pintu Joyo Legi dan mendukung program sosial Rumah Syukur dari OPSHID Pati, bisa simak infonya di video di bawah ini.




Tinggalkan Balasan