Harga cabai rawit merah di Pasuruan melonjak hingga Rp120.000 per kilogram. Kenaikan 33,3 persen dalam sepekan ini dipicu cuaca ekstrem dan gangguan produksi di sentra pertanian.
KOSONGSATU.ID – Memasuki pertengahan Februari 2026, stabilitas harga pangan di wilayah Pasuruan mulai terguncang. Harga cabai rawit merah di sejumlah pasar utama, seperti Pasar Kebonagung dan Pasar Bangil, dilaporkan melonjak drastis hingga menyentuh angka Rp120.000 per kilogram pada Rabu (18/02/2026).
Kenaikan ini tergolong signifikan, mengingat pada pekan sebelumnya harga masih bertahan di kisaran Rp90.000 per kilogram. Dengan kenaikan sebesar 33,3 persen dalam waktu singkat, harga cabai di Pasuruan kini terpaut jauh di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) pemerintah yang ditetapkan sebesar Rp57.000 per kilogram.
Cuaca Ekstrem dan Siklus Musiman
Lonjakan harga ini menjadi ironi, karena pada Januari lalu, Pasuruan sempat mencatat deflasi akibat melimpahnya stok. Namun, kondisi berbalik 180 derajat akibat faktor cuaca.
Agung Supriyo W, Ketua Tim Pengendalian dan Distribusi BPSDA, menjelaskan bahwa gangguan produksi mulai terasa sejak pertengahan bulan.
“Kenaikan ini dipicu oleh gangguan produksi akibat cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi yang melanda wilayah sentra produksi sejak awal tahun. Ini murni faktor alam, bukan kendala di jalur distribusi,” ungkap Agung pada Sabtu (14/02/2026), dikutip dari Suara Jatim Post.
Senada dengan hal tersebut, Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, dalam Rapat Koordinasi Inflasi (18/02/2026) yang dilansir Koran Jakarta, mengonfirmasi bahwa Pasuruan mencatat kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) mencapai 107 persen, salah satu yang tertinggi di Jawa Timur.
Keluhan Pedagang dan Strategi Pemerintah
Di lapangan, para pedagang mulai merasakan dampak lesunya daya beli masyarakat. Hilmi, salah satu pedagang cabai di Pasar Kebonagung, menyebutkan bahwa konsumen kini cenderung mengurangi volume pembelian secara drastis.
“Dari Rp90 ribu langsung ke Rp120 ribu itu berat buat pembeli. Biasanya yang beli kiloan, sekarang banyak yang cuma beli eceran per ons,” keluhnya, saat ditemui di lapaknya, Rabu (18/02/2026).
Menanggapi situasi ini, Pemerintah Kota Pasuruan berencana mempercepat intervensi pasar guna menekan laju inflasi daerah, terutama menjelang bulan suci Ramadan 1447 H.
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Pasuruan, Mulyono, mengimbau warga untuk memanfaatkan program subsidi pemerintah.
“Kami mengimbau masyarakat, khususnya warga dengan daya beli rendah, untuk memanfaatkan operasi pasar dan pasar murah yang akan terus kami gelar guna menjaga keterjangkauan harga,” ujar Mulyono melalui Harian Bhirawa, Rabu (18/02/2026).
Sebelumnya, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pasuruan, Yudha, juga telah mewanti-wanti adanya perubahan harga mendadak pascaperiode deflasi. Dalam pernyataannya di Portal Resmi Pemkab Pasuruan (11/02/2026), ia menekankan pentingnya kewaspadaan dini terhadap fluktuasi harga pangan menjelang hari besar keagamaan.
Hasil penelusuran menunjukkan bahwa meskipun pemerintah telah melakukan operasi pasar, harga di tingkat ritel sulit ditekan selama stok di tingkat petani menipis akibat busuk batang dan gagal panen. Rantai distribusi yang masih panjang antara tengkulak hingga pasar tradisional disinyalir memperlebar margin harga yang harus dibayar konsumen akhir.
Situasi ini diprediksi akan terus bergejolak hingga awal Maret jika intensitas hujan tidak kunjung mereda dan pasokan dari daerah luar belum masuk secara maksimal.***





Tinggalkan Balasan