Pemerintah siapkan skenario hadapi perang Timur Tengah. Menko Airlangga sebut penerimaan negara tetap naik signifikan awal 2026.


KOSONGSATU. ID – Konflik bersenjata di Timur Tengah yang kian memanas memaksa pemerintah Indonesia mengambil langkah cepat. Pemerintah kini tengah menyiapkan berbagai skenario strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dari ancaman ketidakpastian global.

​Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa tim ekonomi terus memantau pergerakan situasi geopolitik dunia. Mereka juga aktif mengkalkulasi potensi dampak konflik tersebut terhadap laju perekonomian Indonesia.

​Mengingat eskalasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran telah berubah menjadi perang terbuka sejak akhir Februari 2026, langkah antisipasi pemerintah menjadi sangat krusial agar rantai perdagangan global tidak memukul pasar domestik.

​“Tidak ada yang bisa memprediksikan perang, tetapi kita punya skenario kalau perangnya 3 bulan, 6 bulan, atau lebih dari 6 bulan,” ujar Airlangga saat memberikan keterangan di Jakarta, Jumat (6/3/2026).

​Penerimaan Negara Tetap Kokoh

​Menariknya, di tengah bayang-bayang ketegangan ekonomi global, kondisi keuangan negara justru menunjukkan tren yang sangat positif. Sepanjang dua bulan pertama tahun 2026, pemerintah mencatat lonjakan signifikan pada sektor penerimaan negara jika membandingkannya dengan periode yang sama pada tahun lalu.

“Kalau di dua bulan pertama ini penerimaan negara lebih bagus dibandingkan tahun lalu. Ada peningkatan,” tambah Airlangga.

​Berdasarkan data resmi pemerintah, performa penerimaan pajak memang tampil memukau. Pada bulan Januari 2026, penerimaan pajak sukses tumbuh hingga 30,7 persen secara tahunan.

Pencapaian luar biasa ini terus berlanjut pada bulan Februari 2026, di mana angka pertumbuhannya tetap stabil menembus 30,2 persen secara tahunan.

​Ketahanan Ekonomi Menjadi Kunci

​Tingginya penerimaan negara ini tentu menjadi modal penting bagi Indonesia. Meskipun ancaman krisis akibat memanasnya suhu politik di Timur Tengah terus mengintai, fondasi keuangan yang kuat di awal tahun memberikan bantalan fiskal yang mumpuni.

Hal ini memberikan ruang gerak lebih luas bagi pemerintah untuk mengeksekusi berbagai skenario pertahanan ekonomi demi melindungi masyarakat dan dunia usaha ke depan.***