Gagal di medan tempur, AS-Israel hancurkan 30 universitas Iran. Strategi brutal memutus nadi peradaban demi ambisi politik.
KOSONGSATU. ID – Di koridor-koridor kampus yang biasanya riuh oleh diskusi filsafat dan sains, kini hanya terdengar desau angin yang membawa bau mesiu.
Langit Iran tidak lagi hanya menyaksikan kepulan asap dari instalasi militer, melainkan dari perpustakaan dan laboratorium yang luluh lantak.
Agresi bersenjata di Timur Tengah telah bergeser menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap: penghancuran sistematis terhadap masa depan intelektual sebuah bangsa.
Reruntuhan di Atas Meja Kuliah
Angka-angka yang muncul ke permukaan sungguh menyesakkan dada. Amerika Serikat dan sekutu dekatnya, Israel, dilaporkan telah membombardir sedikitnya 30 universitas di seantero wilayah Iran sejak genderang perang bertalu akhir Februari lalu. Kabar kelam ini meluncur langsung dari bibir Menteri Sains, Penelitian, dan Teknologi Iran, Hossein Simaei Sarraf.
Dalam wawancaranya dengan RIA Novosti yang dikutip pada Senin (6/4/2026), Sarraf mengungkapkan betapa brutalnya target operasi sekutu kali ini.
“Musuh secara terang-terangan membidik universitas dan pusat penelitian. Laboratorium, ruang kelas, hingga asrama mahasiswa hancur berserakan,” tuturnya dengan nada mengecam.
Serangan ini bukan sekadar kerusakan kolateral, melainkan upaya sadar untuk mematikan pusat-pusat keunggulan strategis Iran.
Manifestasi Frustrasi Militer
Mengapa universitas menjadi target? Jawabannya terletak pada rasa frustrasi yang memuncak di markas komando Washington dan Tel Aviv.
Setelah gagal meraih kemenangan signifikan dalam konfrontasi langsung dengan militer Iran, kedua negara tersebut mulai kehilangan arah. Alih-alih berhadapan di garis depan, mereka memilih untuk melukai warga sipil dan dunia akademik.
Ketegangan yang pecah pada 28 Februari lalu awalnya memiliki narasi tunggal: melumpuhkan program nuklir. Namun, seiring waktu, topeng itu terlepas.
Agresi yang menjangkau ibu kota Teheran ini kini memperlihatkan ambisi asli untuk menggulingkan rezim yang berkuasa dengan cara memutus mata rantai kemajuan sains nasional.
Menghancurkan universitas adalah cara tercepat untuk memastikan sebuah bangsa kehilangan navigasi masa depannya.
Mengkhianati Aturan Perang Dunia
Tindakan membabi buta ini bukan sekadar masalah moral, melainkan pelanggaran telanjang terhadap hukum humaniter internasional. Komunitas global mengenal “Aturan Perang” yang seharusnya melindungi fasilitas pendidikan dari mesin penghancur.
Berdasarkan Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahannya, bangunan yang diperuntukkan bagi pendidikan dan ilmu pengetahuan adalah objek sipil yang wajib mendapatkan perlindungan mutlak.
Statuta Roma tentang Mahkamah Pidana Internasional (ICC) juga menegaskan bahwa serangan sengaja terhadap institusi pendidikan merupakan kejahatan perang, selama tempat tersebut tidak digunakan untuk kepentingan militer.
Dunia juga memiliki Safe Schools Declaration (Deklarasi Sekolah Aman) yang melarang penggunaan fasilitas pendidikan untuk tujuan perang.
Namun, serangan ke asrama-asrama mahasiswa di Iran membuktikan bahwa norma-norma internasional ini seolah kehilangan taringnya di hadapan hegemoni kekuasaan.
Menanam Dendam, Mengubur Ilmu
Mesiu mungkin bisa meruntuhkan beton laboratorium, namun ia tak akan pernah bisa memadamkan api pencarian ilmu. Menargetkan universitas adalah upaya pengecut untuk memenangkan perang yang tak kunjung usai di medan laga.
Penghancuran peradaban pendidikan Iran secara sistematis ini akan tercatat dalam sejarah sebagai babak kelam kemanusiaan. Pada akhirnya, ketika debu serangan mulai mengendap, dunia akan menyadari bahwa yang terkubur di bawah reruntuhan itu bukan hanya buku-buku, melainkan martabat dari mereka yang mengaku sebagai penjaga ketertiban dunia.
Perang ini tidak lagi tentang siapa yang paling kuat, melainkan tentang siapa yang paling tega menghapus jejak peradaban manusia. ***






0 Komentar