Tas Anti-Flexing: Simbol Etika Baru
Di luar urusan ekonomi kreatif, peluncuran tas berlogo Dharma Wanita menjadi pesan simbolik yang tak kalah kuat. Tas ini diperkenalkan sebagai tas anti-flexing, sebuah pernyataan sikap terhadap budaya pamer kemewahan yang kerap melekat pada citra istri pejabat.
“Juga disampaikan ada launching tas baru, tas yang ada logo Dharma Wanitanya. Di mana tas logo itu bisa menghindari kita dari flexing,” ujar Rini.
Pesan ini bukan hal baru. Sejak awal mendampingi Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, Rini telah menegaskan pentingnya menjaga marwah keluarga ASN. “Yang pertama saya sampaikan adalah bagaimana para ibu, para istri bisa menjaga marwah suaminya dengan tidak menggunakan barang-barang yang bermerek,” katanya.
Prinsip itu diterapkan secara tegas dalam kegiatan resmi Pemkot Surabaya. Dalam acara pemerintahan, penggunaan barang bermerek tertentu dinyatakan tidak diperbolehkan. “Kalau acara di kantor, acara di pemerintahan kota, wajib hukumnya untuk tidak menggunakan barang-barang dengan branded tertentu,” ujar Rini. Namun ia memberi ruang kebebasan di luar konteks kedinasan. “Kalau di luar kegiatan pemerintahan, monggo, itu hak njenengan.”
Lebih dari sekadar larangan, Rini ingin membalik cara pandang. Produk lokal, menurutnya, tidak kalah kualitas maupun estetika dibanding merek-merek ternama. “Tas lokal kita juga bagus-bagus, tidak kalah kerennya, tidak kalah bagusnya dengan tas-tas yang mungkin harganya cukup lumayan tinggi,” ujarnya.
Inisiatif yang Datang dari Dalam
Ketua DWP Kota Surabaya, Dameria Triana Ambuwaru Lilik Arijanto, mengungkapkan bahwa gagasan tas anti-flexing sepenuhnya lahir dari Penasihat DWP. Ide itu kemudian diterjemahkan menjadi produk nyata yang melibatkan UMKM lokal.
“Sebenarnya ini ide dari Ibu Rini sebagai penasihat kami, di mana sebagai anggota Dharma Wanita Surabaya kami tidak diperbolehkan untuk flexing,” kata Dameria.
Tas tersebut diproduksi oleh UMKM Kota Surabaya dengan bahan berkualitas dan desain sederhana. Harganya disesuaikan agar terjangkau bagi anggota DWP. “Insyaallah mutu sudah terjamin, dengan model sederhana dan harganya cukup bersahabat. Kalau beli di luar mungkin lebih mahal, tapi di toko kami harganya bersahabat,” ujarnya.
Langkah ini sekaligus menunjukkan konsistensi: kampanye anti-flexing tidak berhenti pada imbauan moral, tetapi diwujudkan melalui dukungan nyata terhadap produk lokal.




Tinggalkan Balasan