Sementara itu, porsi pekerja informal secara nasional justru meningkat, dari 59,40 persen pada Februari 2025 menjadi 59,42 persen pada Februari 2026 — setara sekitar 87 juta orang yang bekerja tanpa jaminan sosial memadai. Kondisi ini oleh sejumlah ekonom disebut sebagai informality trap: pertumbuhan terjadi, tetapi mesin penciptaan lapangan kerja yang layak tidak ikut berputar.
Beban APBN yang Diam-Diam Membesar
Ekspansi fiskal agresif di awal tahun itu meninggalkan konsekuensi. Defisit APBN per 31 Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen PDB — naik lebih dari 140 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Ini memunculkan pertanyaan: apakah belanja negara sebagai pendorong utama masih bisa dipertahankan di kuartal II hingga IV-2026, ketika momentum Lebaran sudah berlalu?***


Tinggalkan Balasan