Dalam metode keraguan Descartes, pikiran manusia ibarat sekeranjang apel. Jika ada satu apel busuk berupa informasi hoaks, kita tidak bisa membiarkannya karena akan menulari apel yang sehat, melainkan harus menumpahkan semuanya dan menyortirnya satu per satu.
Selain itu, Descartes mengibaratkan akal manusia sebagai pengemudi kendaraan. Ketika warganet berselancar di media sosial dengan dikendalikan oleh emosi berlebihan, pengemudi tersebut kehilangan kendali jernih hingga akhirnya menabrak jeruji hukum.
Meski warganet sering kali keliru, cara negara merespons kekacauan digital ini juga memunculkan persoalan baru. Lembaga seperti Komisi Kepolisian Nasional dan Amnesty International menyoroti penggunaan pendekatan represif yang memaksakan definisi kerusuhan fisik ke dalam ruang digital.
Kondisi di mana idealisme bernegara bertabrakan keras dengan realitas penegakan hukum yang irasional melahirkan apa yang disebut oleh Albert Camus sebagai absurditas. Hidup di negara demokratis namun merasa terancam hanya karena sebuah komentar kritis di media sosial adalah situasi yang sangat absurd.
Menghadapi hal tersebut, Camus menawarkan jalan keluar berupa pemberontakan eksistensial, yakni aku memberontak maka aku ada. Kritik yang dilontarkan oleh aktivis, lembaga hak asasi manusia, dan masyarakat luas bukanlah bentuk makar, melainkan upaya mempertahankan kewarasan dan kemerdekaan batin.

Kericuhan di ruang digital antara hoaks yang merajalela dan ancaman represi negara adalah produk dari dua kegagalan. Ada kegagalan individu dalam menjaga nalar kritis, serta ada kegagalan sistem kekuasaan yang merespons kritik dengan cara yang mengekang. Tugas warganet adalah mengasah kembali akal sehat dan tidak pernah lelah menyuarakan kebenaran di tengah sistem yang anti-kritik.***




Tinggalkan Balasan