Emas Tak Lagi Uang, Tapi Masih Raja

Kini, kita tak lagi membayar dengan emas. Namun, logam mulia itu tetap mengisi brankas-bank sentral dari Zurich sampai Shanghai. Ia menjadi pelindung nilai saat inflasi menggila. Menjadi jangkar kepercayaan saat mata uang digital melambung dan jatuh dalam sekejap.

Dalam kekacauan geopolitik, ketika dolar dipakai sebagai sanksi dan mata uang fluktuatif tak bisa dipegang, emas kembali dilirik. Tak berbunga, tak bisa dicetak, tapi tetap dipercaya.

Dunia boleh berubah. Nilai uang bisa naik turun. Tapi emas—si logam kuno yang tak lekang waktu—tetap berdiri sebagai simbol kekayaan yang tidak perlu promosi.

Karena pada akhirnya, uang hanyalah kertas, kecuali bila didukung oleh sesuatu yang lebih abadi. Seperti kepercayaan. Dan emas, sampai hari ini, masih memilikinya.*