Kearifan lokal Jawa dalam Serat Wedhatama mengajarkan ketenangan batin untuk melawan kecemasan tertinggal tren dan obsesi mengejar pujian semu di media sosial.

KOSONGSATU.ID –Penguasa Praja Mangkunegaran sekaligus penulis Serat Wedhatama, KGPAA Mangkunegara IV, mewariskan panduan moral menata batin. Ajaran klasik ini terbukti relevan untuk meredam gejala Fear of Missing Out (FoMO) di dunia digital.

Kecanduan validasi maya berakar dari sifat haus pujian. “Manusia jangan sampai memiliki sifat uger guru aleman atau menjadikan sanjungan sebagai standar kebenaran,” bunyi petuah Mangkunegara IV dalam karyanya.

Ihwal fenomena pamer kekayaan, ajaran ini menyindir mereka yang bersikap agungan sadina-dina. Sikap ingin merasa hebat setiap hari ini berujung pada kebanggaan kosong. Pemikirannya diibaratkan gelap bagai guwa kang sirung.

Eling lan Waspada di Dunia Maya

Sebelumnya, banyak orang merasa cemas bila tidak mengikuti tren terbaru. Sikap eling lan waspada bertindak sebagai filter kognitif agar pengguna tidak terseret arus informasi manipulatif di media sosial.

Pengguna gawai perlu melatih kesadaran diri dengan berhenti sejenak saat cemas melihat unggahan orang lain. Nalar harus digunakan untuk membedakan masalah nyata dengan pikiran yang membesar-besarkan keadaan sesaat.

Selain itu, eling menuntut praktik muhasabah sebelum mengunggah sesuatu. Tujuannya guna memastikan unggahan tersebut bukan demi mencari validasi sosial, melainkan murni keikhlasan spiritual tanpa tendensi pamer.

Pengguna juga wajib membatasi waktu penjelajahan dunia maya sebagai bentuk mujahadah al-nafs atau kontrol diri. Kemampuan ini efektif menekan keinginan mengikuti setiap tren viral hanya karena takut tertinggal zaman.

Filter Kognitif dan Ketahanan Batin

Masyarakat perlu senantiasa waspada terhadap tampilan lahiriah atau waspadèng semu. Konten hiperealitas sering kali sekadar polesan adu manis di media sosial untuk memancing interaksi dan keterlibatan pengguna.

Realitas sejati acap kali tidak seindah tampilan layar gawai. Seseorang yang memiliki ketahanan batin akan memprioritaskan ketenangan substansial daripada mengejar hiburan sementara dan validasi digital.

Kematangan batin akan memunculkan karakter yang sepi hawa. Jiwanya bebas dari gejolak amarah maupun nafsu duniawi. Seseorang tidak lagi menutupi kekurangan dengan mengandalkan status sosial orang tua atau ngendelken yayah-wibi.

Kemandirian dan Kedewasaan Spiritual

Proses pembersihan jiwa harus dimulai dengan mingkar mingkuring angkara. Seseorang dituntut sanggup menghalau sifat loba yang memicu kompetisi simbolik. Tujuannya agar harga diri tidak ditentukan persepsi semu orang lain.

Kedewasaan spiritual menumbuhkan kemandirian dan penerimaan diri yang utuh. “Seseorang yang bijak akan tetap merasa bahagia meskipun dianggap bodoh atau bungah ingaran cubluk,” tegasnya.

Individu diajak mengalihkan energinya untuk memberi kenyamanan bagi sesama atau amemangun karyenak tyasing sasama. “Carilah ngèlmu kang nyata yang memberikan ketenteraman hati, bukan sekadar pujian,” pesan Mangkunegara IV. ***