Bung Karno berlari membukakan pintu mobil KH Mahrus Aly. Bukti ketawadukan Sang Proklamator pada kiai pejuang kemerdekaan.
KOSONGSATU.ID – Publik mengenal Dr. Ir. H. Soekarno sebagai singa podium yang garang menentang kolonialisme. Namun, di balik ketegasan Sang Proklamator, tersimpan sisi spiritual dan ketawadukan yang luar biasa, terutama saat ia berhadapan dengan para ulama penjaga Republik. Bung Karno menyadari betul, ia tidak berdiri sendiri. Ia selalu memosisikan dirinya sebagai santri yang sangat menghormati para kiai, termasuk pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, KH Mahrus Aly.
Kedekatan Bung Karno dan KH Mahrus Aly bukan sekadar hubungan politis antara pemimpin negara dan tokoh agama. Hubungan mereka lahir dari rahim perjuangan, diikat oleh darah dan keringat saat mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ulama Sekaligus Komandan Medan Laga
Kiai Mahrus Aly bukan sekadar ulama yang menghabiskan waktu di balik tembok pesantren. Ia turun langsung memanggul senjata, mengobarkan semangat jihad melawan penjajah Belanda, Jepang, hingga tentara Sekutu.
Sesaat setelah Bung Karno membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945, gaung kemerdekaan itu cepat menjalar hingga ke Kediri. Mayor Mahfud, seorang mantan Sudanco PETA, membawa kabar gembira tersebut langsung kepada Kiai Mahrus. Tanpa membuang waktu, sang kiai segera mengumpulkan para santri di serambi Masjid Lirboyo.
Ia menginstruksikan sebuah langkah berani: melucuti senjata tentara Jepang di Markas Kompitai Dai Nippon di Kediri (lokasi yang kini menjadi pertokoan Keris Galery, Jalan Brawijaya).
Keberanian Kiai Mahrus berlanjut saat Resolusi Jihad berkumandang pada 22 Oktober 1945. Ia memobilisasi kekuatan, memimpin langsung para santri hingga terjun ke palagan pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Dalam pertempuran bersejarah itu, Kiai Mahrus memimpin Batalyon Gelatik, sebuah pasukan heroik yang kelak menjadi embrio dari Kodam Brawijaya. Ia bertaruh nyawa mempertahankan Republik Indonesia yang saat itu baru seumur jagung, berbekal spirit jihad yang mengakar kuat pada doktrin Islam.
Pasang Badan Menjaga Sang Proklamator
Ujian bagi Bung Karno tidak berhenti setelah Sekutu hengkang. Republik Indonesia yang baru lahir harus menghadapi rongrongan dari dalam, salah satunya pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang bergerak atas nama agama.
Dalam situasi politik yang genting, posisi Bung Karno sering kali tersudut. Saat itulah, Kiai Mahrus Aly bersama KH Wahab Chasbullah dan ulama Nahdlatul Ulama (NU) lainnya maju pasang badan. Mereka secara tegas membela dan menetapkan status Bung Karno sebagai Waliyul Amri ad-Dhoruri bis Syawkah (Pemimpin dengan Kekuasaan Penuh yang Sah). Dukungan teologis dan politis dari para ulama ini memberikan legitimasi kuat bagi Bung Karno untuk mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Penghormatan Tertinggi di Pelataran Istana
Bung Karno adalah sosok yang tahu cara berterima kasih. Ia merekam lekat-lekat jasa Kiai Mahrus dalam benaknya. Penghormatan sang Presiden kepada Kiai Mahrus termanifestasi dalam sebuah peristiwa yang menggetarkan hati, sebagaimana dikisahkan oleh KH Dimyathi Kaliwungu kepada Cak Bram.
Suatu ketika, Kiai Mahrus Aly memenuhi undangan Presiden Soekarno ke Jakarta. Mobil yang membawa sang kiai menempuh perjalanan jauh dari pelosok Lirboyo hingga tiba di pelataran Istana Negara.
Begitu mengetahui kedatangan rombongan tersebut, Bung Karno tidak menunggu di dalam ruang tamunya yang megah. Sang Presiden Republik Indonesia itu justru bergegas berlari keluar. Ia menghampiri mobil yang baru saja berhenti, lalu dengan penuh takzim, tangannya sendiri yang membukakan pintu mobil untuk Kiai Mahrus.
Bung Karno melakukan hal itu bukan hanya sekali. Setiap kali Kiai Mahrus berkunjung ke Jakarta, Bung Karno selalu menyambutnya dengan cara yang sama—berlari dan membukakan pintu. Sebuah adab luar biasa dari seorang kepala negara kepada kiai yang membela negaranya.
Mengagumi penghormatan tersebut, Kiai Dimyathi mengutip langsung pernyataan Kiai Mahrus Aly yang sangat legendaris:
”Andaikan setelah Bung Karno ada Presiden dari NU sekalipun, tidak akan melebihi hormatnya Bung Karno pada saya.”
Penutup: Warisan Ijtihad Para Kiai
Kisah Bung Karno dan Kiai Mahrus Aly menampar kesadaran kita tentang harga sebuah kemerdekaan. NKRI yang berdiri tegak hari ini adalah hasil ijtihad dan jihad para kiai pendahulu. Mereka tidak menuntut negara ini menjadi negara agama, melainkan menjaganya agar tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh tumpah darah Indonesia.
Maka, sangat tidak pantas jika generasi saat ini, terutama para santri yang mengharapkan luberan berkah para kiai, memiliki niat untuk merusak atau merombak bentuk NKRI.
Ketokohan Kiai Mahrus Aly terus terpatri di hati para prajurit dan masyarakat. Bahkan, ketika sang kiai berpulang ke Rahmatullah, suasana haru menyelimuti. Satu Batalyon Brigif 521 beserta jajaran kepolisian turun langsung mengamankan prosesi pemakaman beliau. Tetesan air mata para anggota ABRI kala itu menjadi saksi bisu, mengantarkan kepergian seorang ulama, komandan, dan pejuang sejati yang sangat dicintai Republik dan Proklamatornya.***
Daftar Pustaka:
- Catatan lisan dan kesaksian KH Dimyathi Kaliwungu (sebagaimana didokumentasikan dalam catatan Cak Bram).
- Arsip dan Sejarah Lisan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, tentang keterlibatan santri pasca-Proklamasi 1945.
- Catatan Sejarah Perang 10 November Surabaya dan pembentukan Batalyon Gelatik (Embrio Kodam Brawijaya).
- Dokumen Sejarah Nahdlatul Ulama terkait pengukuhan Ir. Soekarno sebagai Waliyul Amri ad-Dhoruri bis Syawkah.





Tinggalkan Balasan