Struktur Bawah Tanah yang Tidak Alami

Indikasi rekayasa manusia semakin kuat ketika riset geofisika dilakukan. Pada 2013, penelitian geolistrik dan georadar menunjukkan bahwa beberapa meter di bawah permukaan Gunung Padang bukan tanah alami, melainkan struktur padat berlapis.

Hasil penanggalan dari Laboratorium Beta Analytic, Miami, memperkirakan usia lapisan terdalam mencapai 14.000 tahun. Jika angka ini terkonfirmasi, Gunung Padang akan menjadi salah satu struktur buatan manusia tertua di dunia—melampaui Stonehenge dan piramida Giza.

Pasir, Logam, dan Teknologi yang Tak Terduga

Penggalian dan pengeboran memperlihatkan detail lain yang mengganggu peta arkeologi konvensional. Pada kedalaman tertentu, tim menemukan pasir halus dengan komposisi tak lazim: 68 persen kuarsa, 22 persen oksida besi-magnesium, dan 10 persen silikat gelas.

Komposisi ini, menurut analisis laboratorium, sulit dijelaskan sebagai sedimentasi alami biasa. Ia lebih menyerupai material hasil proses teknis.

Tak berhenti di situ, ditemukan pula logam berkarat sepanjang sekitar 10 sentimeter dan struktur sambungan antar batu yang mengindikasikan teknik konstruksi tertentu. Analisis dilakukan lintas disiplin oleh tim dari Universitas Indonesiadan Institut Teknologi Bandung.

“Kujang Gunung Padang”

Salah satu temuan paling kontroversial adalah artefak yang dijuluki “Kujang Gunung Padang”. Bentuknya menyerupai senjata: memiliki pegangan, bilah bifasial, dan tajaman di kedua sisi. Artefak batu ini ditemukan pada lapisan yang diperkirakan berasal dari minimal 5200 SM.

Uji laboratorium menunjukkan adanya unsur metal yang tersebar merata di seluruh bagian artefak—bukan sekadar kontaminasi permukaan. Geometrinya kompleks, memuat pola segitiga dan kurva spiral yang mengingatkan pada konsep heliks dalam teknologi modern. Bahkan, ditemukan serat menyerupai kawat di dalam strukturnya.

Seratus Ahli dan Rekonstruksi Masa Silam

Untuk menjawab teka-teki ini, kajian pendahuluan akan melibatkan sekitar 100 ahli dari berbagai bidang: arkeologi, geologi, geofisika, sejarah, arsitektur, hingga paleoseismologi. Rekonstruksi digital akan dilakukan menggunakan pemindaian laser udara, radar, dan sensor geomagnetik berbasis drone.

Tujuannya bukan hanya memetakan ulang, tetapi membayangkan kembali: seperti apa Gunung Padang ketika masih utuh? Apakah ia memiliki tiang, bahkan atap? Dan apa fungsi sebenarnya dari setiap teras?