​Di dekat pangeran, tampak lampu minyak dan sangkar burung terbuka tanpa penghuni. Ini adalah metafora sang penerang negeri dengan jiwa yang tak bisa dikurung oleh penjajahan.

​Terdapat pula kucing yang sedang menjilati kaki di dalam lukisan. Hewan tersebut menjadi simbol kesucian ritual dan niat murni dalam memimpin perang suci.

​Bagian paling tajam ada di sudut kiri bawah yang menampilkan Pangeran Ali Basah Sentot Prawiradirja. Ia digambarkan kerdil, sejajar dengan pelayan, dan ditunjuk oleh sosok roh misterius sebagai sindiran atas sikapnya membelot pada 1829.

​”Lukisan ini membuktikan bahwa seni visual masa lalu bukan sekadar estetika, melainkan media propaganda dan perlawanan politik yang melampaui zamannya,” pungkas ulasan Leiden Special Collections Blog. ***