Memahami dan Menghadapi Ombrophobia

Secara klinis, ombrophobia dipicu oleh beberapa faktor. Konsumsi berita bencana yang intens dan terus-menerus dapat mengubah naluri waspada menjadi ketakutan berlebih. Tayangan ilmiah yang menekankan ancaman alam tanpa konteks adaptasi juga berpotensi memperdalam kecemasan. Namun pemicu terkuat sering kali bersifat personal: pengalaman traumatis saat hujan—banjir, longsor, kehilangan harta, bahkan orang tercinta.

Gejalanya beragam. Pada anak-anak, ketakutan bisa meledak dalam bentuk tangisan, teriakan, penolakan keluar rumah, atau perilaku memantau langit secara obsesif. Pada orang dewasa, gejala lebih subtil namun tak kalah berat: jantung berdebar, gemetar, wajah tegang, upaya tampak tenang yang gagal menutupi kecemasan, hingga dorongan menghindar.

Mengatasinya menuntut kesabaran dan dukungan. Keterlibatan orang terdekat menjadi kunci awal—mendengarkan, membicarakan pengalaman, dan memvalidasi perasaan tanpa menghakimi. Dalam kasus tertentu, terapi diperlukan, dengan pendekatan pemaparan bertahap: menghadapi hujan dari skala kecil, perlahan membangun rasa aman. Prinsipnya sederhana namun menantang—berhadapan dengan rasa takut, selangkah demi selangkah.

Kota dan Kesehatan Mental

Refleksi Yayat mengajak kita membaca banjir sebagai cermin tata kota. Infrastruktur yang rapuh melahirkan genangan; informasi yang timpang melahirkan kepanikan. Di antara keduanya, kesehatan mental warga kerap tercecer. Tragedi di Grogol menjadi pengingat bahwa kebijakan pengendalian banjir perlu memeluk dimensi psikologis—dari komunikasi risiko, manajemen lalu lintas real time, hingga layanan darurat yang mudah diakses.

Jakarta, pada akhirnya, bukan hanya dituntut mengeringkan air, tetapi juga menenangkan pikiran warganya. Sebab kota yang tangguh bukan semata yang cepat surut, melainkan yang mampu menjaga warganya tetap utuh—secara fisik dan batin—ketika hujan kembali datang.***