Runtuhnya Kerajaan Majapahit tak sekadar karena intrik politik. Bukti geologi terbaru di Trowulan menunjukkan amukan gempa purba dan banjir lahar turut memicu keruntuhan imperium Nusantara itu.

KOSONGSATU.ID – ​Bukti baru dari kajian arkeoseismologi mengungkapkan bahwa Kerajaan Majapahit runtuh tidak hanya akibat konflik politik, tetapi juga terjangan bencana alam dahsyat. Pusat kerajaan di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, hancur akibat gempa bumi purba, pencairan tanah atau likuifaksi, serta banjir lahar.

​Dosen Geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Firman Syaifuddin menjelaskan, narasi keruntuhan Majapahit selama ini didominasi isu perang saudara dan transisi kekuasaan. “Namun, di bawah hamparan tanah Trowulan tersimpan narasi lain yang jauh lebih purba dan mematikan,” kata Firman.

​Ia menyebut Trowulan kini menjadi lokasi penting untuk melacak jejak gempa purba melalui peninggalan sejarah. Kawasan ini berdiri di atas cekungan sedimen aluvial yang diapit zona subduksi lempeng Indo-Australia.

​Selain itu, ibu kota kuno ini dipengaruhi kompleks gunung api Arjuno-Kelud, Sistem Sesar Watukosek, dan Sesar Naik Kendeng. “Trowulan berdiri anggun di atas cekungan sedimen aluvial yang diapit oleh mesin-mesin tektonik paling aktif di Pulau Jawa,” ujar Firman.

​Rekam Jejak Gempa dan Likuifaksi

​Karakteristik bangunan Majapahit yang didominasi susunan bata merah tanpa semen modern terbukti sangat rentan terhadap guncangan. Namun, kondisi ini justru merekam jejak deformasi secara presisi, seperti pilar terpuntir dan dinding yang runtuh terarah.

​Fenomena kerusakan ini dalam kajian arkeoseismologi disebut sebagai efek arkeologi gempa bumi. Menurut Firman, sedikitnya dua jenis bencana raksasa datang silih berganti menyapu situs-situs penting seperti Kumitir, Kedaton, dan Minakjinggo.

​Bencana pertama adalah gempa dahsyat yang memicu likuifaksi. “Saat gempa dahsyat mengguncang Trowulan, sedimen aluvial yang belum padat kehilangan kekuatannya,” tuturnya. Kondisi ini membuat tanah kehilangan daya dukung sehingga struktur bangunan hancur.

​Sinkronisasi Bencana dan Naskah Kuno

​Selain gempa, banjir bandang yang membawa material vulkanik letusan Gunung Kelud dan kompleks Arjuno juga menghantam pusat kota. Analisis geologi menemukan endapan sedimen dan fragmen bata yang tersusun miring searah arus air.

​Temuan geologi ini selaras dengan catatan naskah Jawa Kuno, seperti Kakawin Nagarakretagama dan Kitab Pararaton. Naskah-naskah tersebut menggunakan istilah lindu, bumi ketug, hingga pralaya untuk mencatat bencana besar masa lalu.

​Catatan sejarah merekam gempa dan banjir besar pada 1334 Masehi, lalu disusul gempa hebat pada 1450 Masehi. Peristiwa letusan gunung dan banjir lahar juga tercatat pada 1481 Masehi, yang diduga mempercepat kehancuran ibu kota.

​Untuk memetakan siklus bencana ini, peneliti menggunakan teknologi mutakhir seperti radar pemindai laser, tomografi kebisingan ambien, kecerdasan buatan, hingga citra satelit tanpa merusak situs.

​Kajian ini pada akhirnya menjadi rujukan penting bagi pembangunan kawasan modern di Jawa Timur saat ini. “Arkeoseismologi Trowulan mengajarkan bagaimana kita hari ini harus merancang tata ruang yang tangguh terhadap gempa,” kata Firman.***