Temuan geologi ini selaras dengan catatan naskah Jawa Kuno, seperti Kakawin Nagarakretagama dan Kitab Pararaton. Naskah-naskah tersebut menggunakan istilah lindu, bumi ketug, hingga pralaya untuk mencatat bencana besar masa lalu.
Catatan sejarah merekam gempa dan banjir besar pada 1334 Masehi, lalu disusul gempa hebat pada 1450 Masehi. Peristiwa letusan gunung dan banjir lahar juga tercatat pada 1481 Masehi, yang diduga mempercepat kehancuran ibu kota.
Untuk memetakan siklus bencana ini, peneliti menggunakan teknologi mutakhir seperti radar pemindai laser, tomografi kebisingan ambien, kecerdasan buatan, hingga citra satelit tanpa merusak situs.
Kajian ini pada akhirnya menjadi rujukan penting bagi pembangunan kawasan modern di Jawa Timur saat ini. “Arkeoseismologi Trowulan mengajarkan bagaimana kita hari ini harus merancang tata ruang yang tangguh terhadap gempa,” kata Firman.***



Tinggalkan Balasan