Danantara memberi sinyal kehati-hatian usai ramai isu investasi ke A24.


KOSONGSATU.ID – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara menjadi perbincangan hangat di pasar modal. Rumor kuat beredar bahwa lembaga pengelola dana negara ini membidik studio film independen ternama asal Amerika Serikat, A24.

Kabar ini sontak mengejutkan publik domestik maupun pelaku industri.

​Selama ini, publik mengenal Danantara dengan mandat investasi di sektor infrastruktur, BUMN, dan proyek hilirisasi. Ekspansi menuju ranah hiburan Hollywood jelas menjadi manuver di luar kebiasaan. Merespons kencangnya spekulasi yang beredar sejak Rabu (25/3/2026), pihak Danantara akhirnya angkat bicara demi meluruskan narasi publik.

​Tim Komunikasi Danantara selaku Perwakilan Resmi Lembaga, pada Kamis (26/3/2026), menegaskan prinsip utama investasi mereka.

“Danantara Indonesia berpegang teguh terhadap mandatnya untuk menghadirkan imbal hasil yang optimal serta memastikan setiap investasi membawa nilai strategis bagi pembangunan keberlanjutan Indonesia,” urai mereka dalam rilis resmi.

​Pernyataan tersebut tidak membantah maupun membenarkan isu investasi ke A24 secara langsung. Namun, mereka memberi sinyal tegas terkait pentingnya proses evaluasi.

“Meski kami belum dapat menyampaikan rincian lebih lanjut saat ini, setiap keputusan investasi yang diambil selalu mempertimbangkan tidak hanya aspek finansial, tetapi juga mendorong transfer pengetahuan, penciptaan lapangan kerja, serta kontribusi nyata terhadap pembangunan sosial dan ekonomi,” tambah Tim Komunikasi Danantara.

​Menyelaraskan Arahan Presiden

​Spekulasi investasi lintas negara ini sebenarnya bukan tanpa dasar historis. Jika ditarik mundur, langkah ini beririsan langsung dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto.

Pada akhir tahun 2025 lalu, Presiden menugaskan Danantara untuk mulai merancang skema investasi di ekosistem perfilman nasional.

​Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya pada 30 November 2025 sempat mengungkapkan rencana besar tersebut.

“Danantara akan diminta untuk membuat sebuah skema bisnis yang kira-kira menarik untuk tumbuh kembangnya bioskop. Polanya seperti apa, masih disusun,” tegas Riefky saat itu.

​Kini, bidikan tersebut diduga kuat mengarah ke A24. Studio yang didirikan pada tahun 2012 oleh Daniel Katz, David Fenkel, dan John Hodges ini bukan sekadar pembuat film biasa. A24 adalah pemegang dua piala Oscar untuk kategori Film Terbaik, yakni melalui Moonlight (2016) dan Everything Everywhere All at Once (2022).

​Sebagai lembaga investasi raksasa, Danantara memiliki amunisi pendanaan yang sangat besar. Per kuartal pertama tahun 2026, lembaga ini dilaporkan telah mulai mengelola dana investasi kumulatif hingga mencapai sekitar Rp202 triliun. Kapasitas ini membuat peluang masuknya Danantara ke pasar kreatif Amerika Serikat menjadi sangat rasional.

​Meski begitu, pihak manajemen memastikan kehati-hatian tetap menjadi panglima. “Setiap peluang investasi yang kami lakukan harus melewati proses uji tuntas yang menyeluruh agar sejalan dengan kepentingan jangka panjang Indonesia,” pungkas Tim Komunikasi Danantara.

Jika hal ini terealisasi, ekosistem perfilman lokal diproyeksikan segera menikmati akselerasi transfer teknologi kreatif bertaraf global.***