Phillips menilai sikap Indonesia terlalu pro-Palestina dan berpotensi merugikan kepentingan Israel.
Peran Indonesia di Meja Perundingan
Terkait potensi risiko politik, Khairul Fahmi menilai dinamika ISF kali ini berbeda dari pengalaman misi internasional sebelumnya.
Ia menegaskan bahwa persetujuan Israel saat ini ditekan secara kolektif melalui mekanisme internasional di Board of Peace.
Menurutnya, kehadiran Indonesia di meja perundingan penting untuk mencegah penggunaan “veto politik” dalam menolak pasukan dari negara-negara Muslim.
Tanpa keterlibatan kekuatan militer besar seperti Indonesia, Khairul memprediksi faksi kanan Israel akan lebih leluasa mendorong aneksasi penuh atas Gaza.
“Tanpa pengawasan dunia luar yang kuat, risiko dominasi satu narasi akan semakin besar,” ujarnya.
Rencana pengiriman TNI ke Gaza hingga kini masih menunggu keputusan politik dan mandat resmi. Namun, wacana tersebut telah memicu perdebatan di dalam dan luar negeri mengenai implikasi strategisnya.***




Tinggalkan Balasan