BGN pastikan pengadaan motor listrik MBG hanya 21.801 unit, bukan 70 ribu. Namun, Menkeu sebut usulan ini pernah ditolak.
KOSONGSATU. ID – Warganet tengah menyoroti video viral yang menampilkan deretan panjang motor listrik berlogo Badan Gizi Nasional (BGN).
Akun TikTok Driver Lintas Nusantara pertama kali mengunggah video tersebut pada Ahad (5/4) lalu (saat ini, akun ini sudah tidak bisa diakses).
Kendaraan yang masih terbungkus plastik ini kabarnya akan bertugas mendistribusikan logistik program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sontak, tayangan ini memicu spekulasi publik mengenai jumlah armada dan besaran uang negara yang tersedot.
Klarifikasi BGN dan Fakta Jumlah Motor
Kepala BGN, Dadan Hindayana, langsung merespons isu tersebut agar masyarakat tidak terjebak dalam kebingungan. Ia membenarkan adanya pengadaan kendaraan roda dua tersebut, tetapi membantah keras rumor yang menyebut jumlahnya mencapai 70.000 unit.
”Informasi 70.000 unit itu tidak benar. Realisasi total motor listrik sebanyak 21.801 unit dari 25.000 unit yang kami pesan untuk tahun 2025,” tegas Dadan di Jakarta, Selasa (7/4).
Dadan menjelaskan bahwa pemerintah merancang pengadaan ini untuk mendukung operasional Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
ini, BGN belum mendistribusikan motor-motor tersebut ke daerah karena pemerintah masih menyelesaikan administrasi pencatatan Barang Milik Negara (BMN). Proses pembagiannya baru akan berjalan secara bertahap mulai Desember 2025.
Spesifikasi Motor Tangguh untuk Distribusi Pelosok
BGN memilih motor dengan spesifikasi khusus mengingat petugas harus mengantar makanan hingga ke wilayah pelosok yang sulit terjangkau. Berdasarkan visual dalam video, kendaraan itu identik dengan motor listrik tipe Emmo JVX GT yang harganya berkisar Rp56,8 juta per unit.
Motor ini menawarkan spesifikasi mumpuni untuk operasional lapangan:
- Tenaga: 7.000 watt
- Kecepatan maksimal: 80 km/jam
- Daya jelajah: 70 kilometer dalam satu kali pengisian daya
- Kapasitas angkut: Hingga 200 kilogram
- Desain ground clearance yang tinggi berpadu dengan penggunaan ban dual purpose membuat kendaraan ini lincah melibas aspal mulus maupun jalan tanah berbatu, sehingga sangat ideal untuk mengangkut logistik makanan berskala besar.
Menkeu Sebut Usulan Pengadaan Pernah Ditolak
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru memberikan pernyataan yang bertolak belakang mengenai pengadaan puluhan ribu unit motor ini.
mengungkapkan bahwa Kementerian Keuangan sebelumnya menolak pengajuan motor listrik dan komputer untuk SPPG pada APBN 2025.
“Ini saya tahu tahun lalu pernah diajukan juga untuk motor dan komputer, kalau tidak salah ditolak. Yang tahun ini saya tidak tahu, saya akan periksa kembali (double check), harusnya perlakuannya sama,” jelas Purbaya.
Ia menegaskan bahwa fokus utama anggaran BGN seharusnya memprioritaskan penyaluran makanan, bukan kendaraan operasional. Meski pengajuan kendaraan tidak sepenuhnya terlarang, Purbaya menyoroti porsi kebutuhannya.
“Tahun lalu kami menolak untuk membeli komputer yang terlalu banyak dan motor. Saya akan lihat lagi situasinya seperti apa,” tambahnya.
Defisit APBN 2026 dan Percepatan Belanja
Pengadaan fasilitas operasional berskala besar ini mengemuka di tengah sorotan warganet yang membandingkan besarnya anggaran BGN dengan minimnya perhatian terhadap kesejahteraan guru di daerah terpencil.
Publik juga mempertanyakan urgensinya di tengah laporan defisit APBN pada Kuartal I 2026.
Purbaya mencatat defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun atau sekitar 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir Maret 2026. Menkeu menjelaskan bahwa defisit ini merupakan imbas dari strategi pemerintah yang sengaja mempercepat belanja negara di awal tahun, khususnya untuk menyokong program BGN yang memakan porsi anggaran sangat besar.
”Saya ingin menciptakan pertumbuhan belanja pemerintah yang merata sepanjang tahun. Jangan sampai menumpuk di akhir tahun sehingga dampak ekonominya tidak optimal. Jadi, defisit besar di awal tahun ini adalah konsekuensi logis dari kebijakan percepatan belanja kita,” urai Menkeu.***




0 Komentar