Analis Sami Al-Arian merinci sepuluh pergeseran kekuatan di Timur Tengah yang menunjukkan Iran makin kokoh di tengah konflik, sementara hegemoni AS dan Israel justru tergerus.


KOSONGSATU.ID – Sami Al-Arian, Direktur Center for Islam and Global Affairs di Istanbul Zaim University, memaparkan analisis tajam lewat akun X pribadinya. Ia merinci sepuluh tanda utama yang menunjukkan pengaruh Iran justru menguat di tengah konflik yang sejatinya dirancang untuk melemahkannya.

Tanda pertama dan paling strategis: Selat Hormuz. Jalur sempit yang dulu dianggap titik lemah Teheran kini berbalik menjadi senjata mematikan. Iran memanfaatkannya untuk menekan pasar energi global, membuat negara-negara besar tidak bisa bergerak leluasa.

Kedua, sanksi ekonomi yang awalnya bertujuan mengisolasi Iran mulai kehilangan tajinya. Komunitas internasional diam-diam mencari celah demi menyelamatkan rantai pasok. Ketiga, pasar energi global kini sangat rentan — satu guncangan lagi bisa memperparah kekacauan ekonomi dunia secara serius.

Nuklir dan Lemahnya Israel

Keempat, wacana nuklir Iran bergeser. Pasca gugurnya Ayatullah Ali Khamenei, opsi merakit bom kini menjadi kemungkinan nyata yang tidak bisa lagi diabaikan begitu saja. Intelijen AS sendiri memprediksi kepemimpinan Iran justru semakin mengeras di bawah IRGC, bukan melunak.

Kelima, Israel yang sebelumnya agresif mendikte arah konflik kini menanggung tekanan berat di banyak front — Gaza, Lebanon, Tepi Barat, dan udara — seraya menghadapi krisis manpower dan anggaran.

Keenam, pangkalan militer AS di Timur Tengah yang dulunya simbol dominasi kini berubah menjadi beban. Tentara mereka bertugas di bawah bayang-bayang ancaman konstan. Ketujuh, negara-negara Teluk panik karena tidak bisa lagi sepenuhnya mengandalkan payung perlindungan Washington. Infrastruktur vital mereka sangat rentan terhadap serangan rudal.

Deterrence Gagal, Inflasi Melonjak

Kedelapan, strategi pencegahan yang selama ini menjaga stabilitas kawasan terbukti gagal total. Tidak ada lagi pihak yang punya kekuatan untuk mencegah eskalasi konflik berlarut-larut ini.

Kesembilan, tren inflasi global yang sempat mereda kini berbalik naik tajam merespons ancaman perang yang kian meluas. Kesepuluh dan mungkin yang paling ironis: konflik ini dirancang untuk memecah dan menahan Iran, tapi kenyataannya jangkauan geopolitik Teheran justru semakin meluas.

CSIS dalam analisis terbarunya mencatat hal serupa — Iran kini menjalankan kampanye eskalasi multidomain yang mencakup energi, siber, dan kekuatan maritim untuk menekan AS dan sekutunya. Bukan tanda-tanda negara yang sedang dikalahkan.

Sepuluh tanda yang dirinci Al-Arian menegaskan satu hal: taktik lama Barat untuk meredam Iran tidak lagi efektif, dan Timur Tengah kini berhadapan dengan peta kekuatan yang sama sekali baru.***