Pengamat dan BEM UI mendesak Prabowo keluar dari Board of Peace usai tiga prajurit TNI UNIFIL gugur akibat serangan Israel.
KOSONGSATU. ID – Kematian tragis tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam misi UNIFIL di Lebanon Selatan memicu reaksi keras di Tanah Air.
Pengamat Timur Tengah Universitas Padjadjaran, Dina Sulaeman, bersama Aliansi Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), kompak menyuarakan tuntutan tegas.
Mereka mendesak Presiden Prabowo Subianto segera menarik keikutsertaan Indonesia dari forum Board of Peace (BoP) gagasan Donald Trump dan membatalkan rencana pengiriman pasukan ke Gaza.
Ultimatum BEM UI dan Kritik Tajam Dina Sulaeman
BEM UI langsung melayangkan ultimatum 3×24 jam kepada Presiden Prabowo. Mahasiswa mengancam akan menggelar gelombang demonstrasi besar jika pemerintah tetap bersikeras bertahan di BoP.
Mereka menilai forum inisiasi Amerika Serikat tersebut melanggar amanat konstitusi anti-penjajahan dan gagal memberikan dampak nyata bagi kemerdekaan Palestina.
Senada dengan tuntutan mahasiswa, Dina Sulaeman menyoroti tingginya risiko keamanan bagi prajurit Indonesia di zona konflik. Ia menegaskan bahwa Israel tidak pernah menghormati hukum internasional dan kerap menyerang pasukan perdamaian PBB tanpa pernah menerima sanksi.
”Buat apa kirim pasukan jika sejak awal dinyatakan tidak akan terlibat operasi tempur dan hanya urusan kemanusiaan? Senjata Israel setiap saat siap menyerang tanpa peduli kemanusiaan,” tegas Dina.
Ia mencatat insiden ini sebagai periode paling mematikan bagi Kontingen Garuda sejak bergabung dengan UNIFIL pada 2006, dengan total tiga prajurit gugur dan tujuh lainnya terluka dalam dua hari terakhir.
Kronologi Gugurnya Prajurit TNI di Garis Depan
Tragedi ini bermula ketika proyektil artileri menghantam posisi kontingen UNIFIL Indonesia di tengah baku tembak sengit antara militer Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon Selatan pada rentang waktu Minggu (29/3/2026) hingga Senin (30/3/2026).
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia mengonfirmasi insiden tersebut terjadi saat para prajurit tengah menjalankan tugas pengawalan operasional.
Salah satu korban yang telah teridentifikasi gugur adalah Praka Farizal Rhomadhon (28) dari Batalyon Infanteri 113/JS.
Dalam insiden yang sama, Praka Rico Pramudia menderita luka berat, sementara Praka Bayu Prakoso dan Praka Arif Kurniawan mengalami luka ringan. Tim medis lapangan bergerak cepat mengevakuasi korban luka berat menggunakan helikopter menuju Rumah Sakit St. George di Beirut untuk mendapatkan penanganan intensif.
Kecaman Internasional dan Langkah Diplomasi
Merespons kejadian nahas ini, Menteri Luar Negeri RI Sugiono menyampaikan belasungkawa mendalam di sela-sela kunjungannya di Tokyo, Jepang.
Pemerintah Indonesia mengecam keras eskalasi serangan Israel yang kini meluas secara agresif ke wilayah Lebanon.
Sugiono langsung menginstruksikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beirut untuk mengurus pemulasaraan jenazah Praka Farizal. Selain itu,
Indonesia menuntut UNIFIL melakukan investigasi menyeluruh guna mengungkap sumber tembakan yang menewaskan prajurit kebanggaan bangsa tersebut.
Kecaman keras juga datang dari Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres. Melalui akun X pribadinya, ia mengutuk serangan yang terus menargetkan dan membahayakan nyawa personel penjaga perdamaian internasional di garis perbatasan.
Menanti Sikap Tegas Pemerintah
Kini, bola berada di tangan pemerintah. Tragedi di Lebanon Selatan menjadi ujian berat bagi komitmen diplomasi dan kebijakan luar negeri Indonesia.
Masyarakat luas dan kalangan akademisi menanti langkah nyata Presiden Prabowo Subianto: apakah pemerintah akan mempertahankan posisi di Board of Peace demi ambisi peran mediator global, atau mengambil langkah mundur demi merespons gugurnya para patriot bangsa dan memegang teguh prinsip konstitusi anti-penjajahan.***




0 Komentar