Ratusan pekerja dapur gizi mendadak dirumahkan buntut aksi joget sang pengelola.
KOSONGSATU.ID – Dampak dari konten pamer di media sosial seringkali tidak hanya menghancurkan reputasi pembuatnya, tetapi juga mengorbankan hajat hidup orang banyak.
Hal tragis ini sedang dialami oleh 150 relawan dan pekerja dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban di Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Mereka terpaksa kehilangan pekerjaan harian secara mendadak akibat kelalaian sang pengelola dapur.
Petaka ini berawal dari unggahan video TikTok milik Hendrik Irawan, mitra pengelola SPPG tersebut. Pada pertengahan Maret 2026, ia mengunggah video joget di dalam area dapur dengan narasi yang menonjolkan keuntungan insentif operasional Rp6 juta per hari.
Konten yang dianggap nir-empati tersebut memicu gelombang kritik dari warganet dan akhirnya sampai ke telinga pemerintah pusat.
Merespons aduan masyarakat, Badan Gizi Nasional (BGN) langsung bergerak cepat. Inspeksi mendadak dilakukan pada 25 Maret 2026 dan menemukan sejumlah pelanggaran fatal.
Selain masalah ketiadaan Alat Pelindung Diri (APD) saat membuat konten, petugas menemukan bahwa dapur raksasa tersebut tidak memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Hari itu juga, BGN menjatuhkan sanksi penutupan sementara atau suspend.
Keputusan penangguhan ini langsung menjadi pukulan telak bagi operasional harian dapur. Aktivitas memasak berhenti total. Mesin-mesin dapur dimatikan. Konsekuensi paling menyedihkan harus ditanggung oleh para tenaga kerja lokal yang menggantungkan hidupnya dari operasional dapur tersebut. Sebanyak 150 orang relawan dan pekerja harian harus dirumahkan tanpa kepastian waktu.
Hilangnya Mata Pencaharian Mendadak
Kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba ini tentu membawa dampak psikologis dan ekonomi yang berat bagi para pekerja. Mereka yang sebelumnya memiliki jadwal rutin memasak dan mendistribusikan makanan, kini harus berdiam diri di rumah. Terlebih lagi, situasi ini terjadi menjelang pemenuhan berbagai kebutuhan pokok harian yang krusial bagi keluarga mereka di rumah.
Hendrik Irawan, sang pemilik modal sekaligus aktor utama dalam video viral tersebut, akhirnya menyadari dampak luas dari perbuatannya. Dalam pernyataannya pada 26 Maret 2026, ia mengungkapkan penyesalannya atas nasib yang menimpa para pekerjanya.
“Dengan keputusan BGN, ada sekitar 150 relawan yang tidak akan bekerja,” ungkapnya dengan nada penuh penyesalan.
Ia menyadari bahwa gaya komunikasinya di media sosial telah memicu bencana operasional ini. “Jadi mungkin inilah dampaknya mungkin saya terlalu frontal, saya sangat prihatin bagaimana nasib relawan saya, 150 relawan yang benar-benar sudah semangat,” tambah Hendrik.
Ia mengakui telah berbuat salah dan menerima sanksi yang dijatuhkan BGN, serta segala hujatan yang dialamatkan netizen kepadanya.
Kini, nasib 150 pekerja tersebut bergantung pada seberapa cepat Hendrik bisa memperbaiki fasilitas dapurnya. Sembari membatalkan niat untuk melaporkan warganet ke polisi, Hendrik berjanji untuk fokus penuh membenahi IPAL dan tata letak dapur.
Jika proses perbaikan berjalan mulus dan sanksi suspend dicabut, para relawan yang penuh semangat ini diproyeksikan bisa kembali bekerja menyajikan makanan bergizi pada 31 Maret mendatang. ***





Tinggalkan Balasan