Menteri Pertahanan Inggris menuding Rusia secara diam-diam memasok data intelijen ke Iran untuk menyerang aset militer Amerika Serikat.
KOSONGSATU.ID–Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, membenarkan adanya taktik campur tangan Rusia dalam konflik Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikannya pada 12 Maret 2026, mengutip laporan The Guardian.
“Saya rasa tidak ada yang akan terkejut untuk percaya bahwa tangan tersembunyi Putin berada di balik beberapa taktik Iran dan berpotensi pada beberapa kemampuan mereka juga,” ungkap Healey.
Menurut Healey, Rusia tidak mengirimkan pasukan darat atau jet tempur secara langsung, tetapi memainkan peran krusial di balik layar. Bentuknya berupa dukungan data intelijen waktu-nyata dan taktik militer presisi tinggi yang diberikan langsung kepada Iran.
Perubahan Taktik Drone Iran
Situasi memanas setelah AS dan Israel melancarkan kampanye militer ke Iran pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, Moskow mentransfer data pergerakan kapal perang dan aset Amerika Serikat. Informasi ini dipakai Iran untuk mengarahkan drone mereka secara akurat.
Berbekal panduan taktis dari Rusia, proksi Iran mengubah cara mereka menyerang. Tercatat, lebih dari dua ribu unit drone jenis Shahed telah ditembakkan Iran ke kawasan Timur Tengah. Drone ini sebenarnya didesain Iran, namun taktik penggunaannya diadaptasi dari medan perang Ukraina.
Analisis militer Inggris menyebut pilot drone Iran kini terbang di ketinggian sangat rendah. Taktik ini sukses menembus sistem pertahanan udara mahal milik Barat, seperti Iron Dome atau rudal Patriot. Drone seharga sekitar 30 ribu dolar AS menjadi ancaman mematikan yang memaksa AS dan Israel membuang amunisi pencegat bernilai jutaan dolar.
Respons AS: “Kami Melacak Semuanya”
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan pihaknya terus memantau pergerakan ini. Pada 6 Maret 2026, ia menegaskan militer AS tidak tinggal diam.
“Rakyat Amerika dapat yakin bahwa panglima tertinggi mereka sangat menyadari siapa yang berbicara dengan siapa. Kami melacak semuanya,” tegas Hegseth.
Keuntungan Geopolitik Rusia
Manuver rahasia Rusia ini bukan sekadar bentuk solidaritas terhadap Iran. Ada keuntungan geopolitik besar yang diincar Putin. Konflik AS-Iran menjadi penyelamat tak terduga bagi Rusia yang sedang berperang di Ukraina.
Ketegangan di Timur Tengah berhasil mengalihkan fokus dan sumber daya militer Washington. Logistik senjata Barat kini harus dibagi dua. Selain itu, eskalasi di Teluk Persia memicu lonjakan harga minyak global yang langsung menyuntikkan dana segar ke mesin perang Putin.
Pendapatan energi Rusia sempat anjlok parah hingga 20 persen pada 2025 akibat sanksi ekonomi. Kini, melalui satu manuver tak terlihat, Putin berhasil menekan Barat di dua garis depan sekaligus.***




Tinggalkan Balasan