Bulan suci Ramadan kerap berujung duka. Serangan Israel di Timur Tengah terus berulang, mencetak tragedi berdarah setiap tahunnya.
KOSONGSATU.ID – Bagi umat Islam di seluruh dunia, Ramadan merupakan momen suci untuk memperbanyak amal ibadah. Namun, realitas kelam justru sering mewarnai negara-negara di Timur Tengah. Konflik berdarah dan ketegangan militer akibat manuver Israel kerap memuncak bertepatan dengan datangnya bulan puasa.
Banyak orang bertanya-tanya, mengapa bulan yang seharusnya damai ini justru sering menjadi arena pertumpahan darah? Sejumlah analis menilai bahwa bertemunya faktor religius, politik, dan keamanan pada waktu yang bersamaan memegang peran penting dalam memicu eskalasi ini.
Gesekan di Pusat Situs Suci
Jurnalis Turki Taha Kilinic yang menulis di Yeni Safak menyoroti beberapa pemicu utama mengapa ketegangan meningkat tajam saat Ramadan.
”Ramadan membuat ribuan hingga ratusan ribu umat Muslim berkumpul untuk beribadah di Masjid Al-Aqsa, Yerusalem. Kerumunan besar ini menciptakan situasi yang sangat sensitif, sehingga gesekan kecil saja dapat dengan cepat memicu bentrokan,” tulis Kilinic.
Yerusalem, khususnya kompleks Al-Aqsa, memiliki nilai religius dan politik yang tidak ternilai bagi banyak pihak. Karena itu, ketika otoritas Israel memberlakukan pembatasan akses atau menggelar operasi polisi di kawasan tersebut, masyarakat langsung memandangnya sebagai provokasi. Langkah pengamanan yang agresif sering kali menjadi bensin yang menyulut api perlawanan.
Serangan Fisik dan Taktik “Psychological Timing”
Bulan suci memegang makna emosional yang dalam bagi komunitas Muslim global. Alhasil, setiap operasi militer yang Israel lancarkan pada periode ini selalu menghasilkan gelombang kemarahan yang jauh lebih besar.
Dari kacamata militer dan geopolitik, para pengamat menyebut fenomena ini sebagai taktik “psychological timing”. Pasukan militer sering kali sengaja memanfaatkan momentum bulan suci untuk menekan moral lawan. Sayangnya, taktik ini tidak jarang justru memperluas skala konflik ke tingkat regional hingga global.
Jejak Hitam Konflik Sepanjang Ramadan (2002–2026)
Sejarah mencatat berbagai insiden kelam yang menodai kesucian Ramadan dalam dua dekade terakhir. Berikut deretan peristiwa utamanya:
- Serangan Gabungan AS-Israel ke Iran (Februari-Maret 2026): Amerika Serikat dan Israel melancarkan kampanye serangan udara besar-besaran ke berbagai kota di Iran, termasuk Teheran dan Isfahan. Rentetan rudal ini menghantam sekolah dasar Shajareh Tayyebeh di Minab dan menewaskan sekitar 180 orang, yang mayoritas adalah anak-anak. Serangan gencar ini mengguncang dunia karena total korban tewas mencapai 787 jiwa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei.
- Eskalasi Serangan di Gaza (Maret 2025): Israel kembali melancarkan serangan militer brutal di Jalur Gaza. Puncaknya pada 18 Maret, sebuah operasi militer menewaskan lebih dari 330 orang. Bahkan, pasukan militer tidak segan menyasar sebuah organisasi amal di Beit Lahia yang menelan sembilan korban jiwa.
- Serangan Udara Nusseirat (Maret 2024): Pada hari-hari awal puasa, jet tempur Israel membombardir kompleks bawah tanah Hamas di Nusseirat, Gaza Tengah, yang menewaskan 67 orang dan melukai ratusan lainnya.
- Penyerbuan Kompleks Al-Aqsa (April 2023): Polisi Israel merangsek masuk ke area masjid pada malam hari menggunakan granat kejut, gas air mata, dan tongkat. Pasukan keamanan menangkap sekitar 400 warga Palestina malam itu.
- Bentrokan dan Serangan Udara (April 2022): Aparat keamanan Israel menembakkan gas air mata dari drone ke arah jamaah di kompleks Al-Aqsa. Sehari sebelumnya, Israel juga menjatuhkan bom ke fasilitas bawah tanah di Gaza Tengah.
- Kerusuhan Al-Aqsa (Mei 2021): Polisi Israel menembakkan peluru karet dan gas air mata kepada jamaah yang tengah beribadah, melukai lebih dari 300 warga sipil.
- Operasi Protective Edge (Juli-Agustus 2014): Israel meluncurkan invasi militer intensif di Jalur Gaza. Kampanye mematikan ini merenggut nyawa ratusan anak Palestina dan melukai ribuan penduduk.
- Invasi Tepi Barat (2002): Pasukan Israel merangsek ke sejumlah kota Palestina seperti Bethlehem, Jenin, dan Nablus. Organisasi hak asasi manusia mencatat belasan warga sipil menjadi korban jiwa dan luka-luka dalam serbuan tersebut.
Menanti Kedamaian yang Masih Menjadi Ilusi
Rentetan peristiwa berdarah dari tahun 2002 hingga tragedi terbaru di tahun 2026 membuktikan bahwa bulan Ramadan masih jauh dari kata damai bagi sebagian masyarakat di Timur Tengah. Ambisi geopolitik dan penggunaan kekuatan militer yang berlebihan terus menodai kesucian bulan penuh ampunan ini. Dunia kini hanya bisa menuntut dan berharap komunitas internasional segera mengambil langkah tegas untuk menghentikan siklus kekerasan yang tiada akhir.***





Tinggalkan Balasan