Ketua IDAI dr. Piprim Basarah peringatkan bahaya campak di tengah lonjakan 8.224 kasus suspek.
KOSONGSATU.ID—Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Piprim Basarah Yanuarso menyoroti lonjakan kasus campak yang masih terjadi di Indonesia.
Hingga minggu ketujuh 2026, Kementerian Kesehatan mencatat 8.224 kasus suspek campak dengan 572 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 4 kematian.
Situasi ini menempatkan Indonesia pada peringkat kedua dunia dalam kejadian luar biasa (KLB) campak setelah Yaman. dr. Piprim menegaskan bahwa peningkatan kasus ini terkait erat dengan penurunan cakupan imunisasi beberapa tahun terakhir.
“Cakupan imunisasi yang tidak mencapai target herd immunity menjadi penyebab utama munculnya kembali wabah campak,” ujarnya dalam pernyataan resmi awal Maret 2026.

Pentingnya Imunisasi Lengkap
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan cakupan imunisasi campak-rubela dosis pertama (MR1) pada 2025 tercatat 82 persen, menurun dari 92 persen pada 2024. Sementara dosis kedua (MR2) turun dari 82,3 persen menjadi 77,6 persen.
Padahal, untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity), cakupan imunisasi campak harus mencapai minimal 94 persen. Efektivitas vaksin campak sendiri mencapai 84–93 persen pada pemberian pertama, dan meningkat hingga 95–97 persen setelah dosis kedua.
Di Indonesia, vaksin campak diberikan pertama kali pada usia 9 bulan dalam bentuk vaksin MR (measles-rubella). Dosis kedua diberikan pada usia 18 bulan, dan dilanjutkan kembali saat anak berada di kelas 1 sekolah dasar.
Kritik terhadap Perilaku Abai Isolasi
Piprim juga menyoroti kasus selebgram Ruce Nuenda yang viral karena tetap berolahraga di fasilitas umum saat terinfeksi campak. Menurutnya, tindakan mengabaikan isolasi mandiri sangat berbahaya bagi kelompok rentan.
“Ketika cakupan imunisasi tidak cukup untuk herd immunity, maka mulailah bermunculan campak ini. Tindakan mengabaikan isolasi di tempat umum sangat berbahaya bagi kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, dan individu dengan daya tahan tubuh lemah,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa isolasi adalah kewajiban medis bagi siapapun yang terdiagnosis mengidap penyakit menular melalui udara. Satu orang yang terinfeksi campak mampu menularkan virus kepada 12 hingga 18 orang lainnya.
Infodemik dan Gerakan Antivaksin
Piprim mengkhawatirkan konten media sosial yang menyesatkan akan merusak upaya pemerintah dalam menaikkan angka cakupan imunisasi. Sebagian kasus berat ditemukan pada kelompok masyarakat yang terpapar narasi antivaksin di platform digital.
“Jangan sampai perilaku abai ini dicontoh oleh jutaan pengikut di internet. Perilaku abai terhadap penyakit menular tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga mengancam nyawa kelompok rentan,” ujarnya.
IDAI mendesak para influencer untuk lebih bijak dalam membagikan konten terkait kesehatan. Kasus kematian 4 orang di awal tahun 2026 menjadi bukti nyata bahwa ancaman ini tidak boleh dipandang sebelah mata.
Pemerintah Siapkan Program Imunisasi Tambahan
Menanggapi lonjakan kasus, Kementerian Kesehatan akan memulai program imunisasi campak-rubela (MR) tambahan atau crash program. Program ini diprioritaskan bagi anak-anak di tingkat PAUD dan TK, terutama di wilayah dengan cakupan imunisasi rutin yang masih di bawah target 95 persen.
Plt. Dirjen P2P Kemenkes dr. Andi Saguni mengimbau masyarakat tidak hanya mengandalkan daya tahan tubuh alami, melainkan memperkuatnya dengan vaksinasi medis. Saat ini terdapat 13 KLB terkonfirmasi laboratorium di 17 kabupaten/kota yang tersebar di 11 provinsi.
Lima provinsi dengan laporan KLB terbanyak meliputi Sumatra Barat, Sumatra Selatan, DIY, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Jawa Barat dan Banten menjadi wilayah dengan laporan tertinggi yang kini sedang mendapatkan penanganan darurat dari pemerintah.***





Tinggalkan Balasan