Perdana Menteri India membuka Dialog Raisina ke-11. Forum ini bertujuan merumuskan tatanan geopolitik global yang baru.


KOSONGSATU.ID—​Perdana Menteri India, Narendra Modi, resmi membuka pergelaran Dialog Raisina ke-11 di New Delhi pada Kamis pagi (5/3/2026). Konferensi berlangsung di tengah krisis tatanan internasional yang terus memanas.

Berbagai konflik militer yang berlarut, ancaman perang dagang global, hingga disrupsi teknologi kecerdasan buatan menjadi latar belakang utama pertemuan bergengsi ini.

​Observer Research Foundation (ORF) bersama Kementerian Luar Negeri India kembali menjadi motor penggerak acara tahunan ini. Memasuki penyelenggaraan tahun ini, Dialog Raisina mengusung tema besar bertajuk “Saṁskāra – Assertion, Accommodation, Advancement“.

Tema ini sengaja dipilih untuk merespons dinamika global yang menuntut negara-negara berkembang mengambil peran lebih aktif.

Forum multilateral ini tidak lagi sekadar menjadi ajang diskusi biasa, melainkan juga menjadi panggung strategis bagi negara-negara yang tergabung dalam kawasan Global South.

​Mereka menegaskan tidak ingin lagi hanya menjadi penonton di tengah polarisasi negara-negara adidaya yang sedang berseteru.

Langkah nyata mulai diambil untuk membentuk koalisi aktif demi menciptakan tata kelola dunia yang lebih berimbang.

Pada pembukaan hari pertama, fokus diskusi langsung menukik pada isu krusial terkait arsitektur keamanan global. Terkikisnya jaminan keamanan tradisional dunia akibat berbagai perselisihan bersenjata menjadi perhatian utama para delegasi dari berbagai benua.

​Menggeser Poros Kekuatan Geopolitik

​Selain isu keamanan tradisional, kebangkitan model tata kelola baru yang menitikberatkan pada keamanan ranah digital dan kecerdasan buatan turut memicu perdebatan yang sangat komprehensif.

Kehadiran para tokoh penting dari berbagai belahan dunia mempertegas posisi tawar kegiatan multilateral ini di mata komunitas internasional.

​Presiden Finlandia, Alexander Stubb, hadir sebagai Tamu Kehormatan sekaligus pembicara utama. Kehadirannya telah dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri India semenjak awal pekan ini.

Tidak hanya itu, gelombang kedatangan delegasi tingkat tinggi terus mengalir memadati bandara New Delhi. Tokoh sentral geopolitik seperti Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Christopher Landau dan Perdana Menteri Kenya Musalia Mudavadi tampak hadir memenuhi undangan.

​Penyelenggara Konferensi dari ORF pada Kamis (5/3/2026) menegaskan bahwa arah geopolitik kini sedang berubah secara fundamental.

“Global South tidak lagi sekadar sebuah konstituensi, ia adalah sebuah koalisi, kekuatan pengganda untuk tatanan yang lebih adil. Dalam lanskap yang cair ini, India bukanlah penyeimbang melainkan pembangun,” sebut perwakilan lembaga tersebut di situs resminya.

Pusat gravitasi geopolitik secara perlahan mulai bergeser dari acara tradisional Barat menuju kawasan Asia seiring jalannya konferensi ini.***