Di tengah suasana Ramadan yang khusyuk, pertanyaan tentang boleh tidaknya ibu hamil berpuasa kembali mengemuka—antara dorongan ibadah dan pertimbangan keselamatan dua nyawa sekaligus.


KOSONGSATU.ID–Bagi umat Muslim, puasa Ramadan adalah kewajiban bagi mereka yang telah akil balig dan tidak memiliki uzur syar’i. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 184 disebutkan bahwa orang sakit dan musafir mendapat keringanan untuk tidak berpuasa. Kehamilan, dalam konteks ini, menjadi kondisi khusus yang menuntut kehati-hatian: bukan semata persoalan mampu atau tidak, melainkan aman atau berisiko.

Secara fisiologis, kehamilan menghadirkan perubahan besar dalam tubuh perempuan. Adaptasi hormonal, peningkatan volume darah, hingga kebutuhan energi yang melonjak demi pertumbuhan janin, menjadikan masa ini fase yang sensitif. Dalam Islam, perempuan hamil termasuk golongan yang diperbolehkan tidak berpuasa apabila kondisi kehamilannya membahayakan ibu atau janin. Keringanan yang sama juga berlaku bagi ibu menyusui, perempuan haid, dan perempuan dalam masa nifas.

Namun keringanan bukan berarti larangan mutlak. Menurut Nova Elok Mardliyana, dosen S-1 Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya, ibu hamil tetap diperbolehkan berpuasa selama kondisi ibu dan janin sehat.

“Untuk memastikan kondisi kesehatan ibu hamil, sebaiknya melakukan konsultasi dengan tenaga kesehatan jika akan menjalankan puasa secara penuh,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).

Elok menjelaskan, saat berpuasa ibu hamil cenderung mengalami penurunan kadar gula darah. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menyebabkan penurunan berat badan janin. Tubuh memiliki mekanisme adaptasi, selama asupan nutrisi harian tetap terpenuhi.

Kebutuhan kalori ibu hamil, lanjutnya, berkisar antara 2.200 hingga 2.300 kalori per hari. Angka ini menjadi kunci. Artinya, meski waktu makan terbatas, kualitas dan kecukupan gizi tidak boleh dikompromikan. Di sinilah tantangan sesungguhnya Ramadan bagi ibu hamil: menata ulang pola makan tanpa mengurangi kebutuhan nutrisi.

Menata Energi di Antara Magrib dan Subuh

Puasa bukan hanya soal menahan lapar, tetapi juga soal manajemen energi. Elok menegaskan bahwa sahur tidak boleh dilewatkan. Sahur menjadi fondasi cadangan energi sepanjang hari. Menu seimbang—mengandung protein hewani, karbohidrat kompleks, lemak sehat, serta sayur dan buah—membantu menjaga kadar gula darah lebih stabil.