Prabowo segera ke Washington teken perjanjian dagang ART. RI sukses tekan tarif ekspor AS jadi 19 persen, namun harus buka pasar impor hingga 99 persen sebagai timbal balik.


KOSONGSATU.ID—Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dijadwalkan bertolak ke Washington D.C. pekan depan untuk meresmikan kesepakatan dagang bersejarah Agreement on Reciprocal Tariff (ART) dengan Amerika Serikat.

Langkah ini menandai babak baru hubungan ekonomi kedua negara di tengah kebijakan proteksionisme global, sekaligus memastikan proteksi terhadap ribuan lapangan kerja di sektor industri 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengonfirmasi bahwa dokumen final perjanjian tersebut telah rampung disinkronisasi oleh tim teknis. Perjanjian ini merupakan tindak lanjut dari negosiasi intensif yang dimulai sejak Juli 2025, saat Indonesia terancam tarif impor sebesar 32% oleh pemerintahan AS.

“Presiden dijadwalkan hadir di Washington pada tanggal 19 Februari, dan pada momen itulah rencana penandatanganan ART akan dilakukan,” ujar Airlangga saat memberikan keterangan di lingkungan Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (11/02).

Inti dari kesepakatan ini adalah keberhasilan Indonesia melobi penurunan tarif ekspor ke pasar AS dari angka awal 32 persen menjadi 19 persen. Sebagai imbal balik, Indonesia sepakat membuka akses pasar bagi produk industri dan pertanian Amerika Serikat dengan menghapus tarif impor hingga 99%.

Konteks Data Ekonomi

Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi global, ekspor Indonesia ke Amerika Serikat sepanjang tahun 2025 justru mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 16,66 persen. Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menyebutkan bahwa kepercayaan pasar AS terhadap produk Indonesia menjadi modal kuat dalam negosiasi ini.

Selain pengaturan tarif, kesepakatan ini juga mencakup komitmen impor strategis dari Indonesia, yang meliputi:

  • Pembelian 50 unit pesawat Boeing (termasuk tipe 777).
  • Impor produk energi senilai USD15 miliar.
  • Impor komoditas pertanian (gandum, kedelai, jagung) senilai USD4,5 miliar.

Perspektif Global

Diplomasi ekonomi ini tidak lepas dari posisi politik luar negeri Indonesia yang kian aktif. Pada Januari 2026, Indonesia resmi bergabung dalam inisiatif Board of Peace (BoP) di Davos. Perwakilan Perdagangan AS (USTR), Jamieson Greer, dalam wawancara baru-baru ini menyebut Indonesia sebagai “the next big one”, mengacu pada potensi besar Indonesia sebagai pasar barang-barang AS di Asia Tenggara.