Di balik genangan dan kemacetan, banjir Jakarta menyisakan luka psikologis yang kerap luput dari perhitungan kebijakan.
KOSONGSATU.ID—Bagi Yayat Supriatna, banjir di Jakarta tidak berhenti pada rusaknya barang atau terhambatnya lalu lintas. Ia menjalar ke wilayah yang lebih sunyi: pikiran dan perasaan warga yang terperangkap di tengah ketidakpastian. Tragedi meninggalnya AR (51), seorang pengemudi yang ditemukan tak bernyawa di mobilnya saat terjebak banjir dan kemacetan parah di Jalan Latumeten, Grogol Petamburan, Kamis (22/1/2026), menjadi penanda pahit dari beban yang tak kasatmata itu.
Yayat tak berspekulasi soal sebab kematian. Namun ia membuka ruang tafsir yang kerap diabaikan. Serangan jantung bisa datang dari kondisi medis, bisa pula dipicu tekanan yang menumpuk ketika seseorang terjebak berjam-jam tanpa kepastian. “Kita enggak tahu ya,” ujarnya, Jumat (23/1/2026). “Mungkin ada aspek psikologis ketika tidak semua orang siap dengan kondisi banjir.” Dalam kalimatnya, banjir tampil bukan hanya sebagai peristiwa alam, melainkan situasi sosial yang memeras emosi.
Kemacetan panjang, waktu yang terpotong, potensi kerugian ekonomi, dan kelelahan fisik menciptakan ruang panik. Di kota yang bergerak cepat, jeda paksa berjam-jam di balik kemudi dapat menjadi tekanan akut. “Itu sebetulnya bisa membuat orang panik,” kata Yayat, menyiratkan bahwa stres kolektif adalah bagian dari ongkos banjir yang jarang dicatat.
Sindrom Takut Hujan
Selama ini, banjir sering direduksi menjadi soal genangan dan arus lalu lintas. Yayat mengingatkan, ada lapisan lain yang tumbuh diam-diam: rasa takut terhadap hujan itu sendiri. Ia menyebutnya sebagai sindrom hujan atau ombrophobia—ketakutan berlebihan yang muncul bahkan sebelum hujan turun. “Orang Jakarta itu sebetulnya membaca cuaca,” ujarnya. “Dengar hujan saja, ada rasa takut rumahnya kebanjiran, tenggelam, atau terjebak di tengah jalan.”
Ketakutan ini bukan fiksi. Ia berkelindan dengan pengalaman hidup warga kota yang berulang kali menghadapi banjir. Tekanan menjadi lebih berat ketika hujan berarti terhentinya aktivitas, potensi kehilangan pendapatan, dan risiko keselamatan. Yayat menautkan hal itu dengan peristiwa lain yang masih segar di ingatan publik—warga Cilincing yang meninggal akibat tersengat listrik saat banjir, satu keluarga sekaligus. Ketidaksiapan dan minimnya pengetahuan keselamatan memperparah situasi, menjadikan hujan sebagai pemicu trauma.
Dalam kerangka ini, hujan berubah menjadi simbol ancaman. Awan gelap, kilat, dan angin besar dapat memantik kecemasan yang tak proporsional. Pada sebagian orang, rasa takut hadir bahkan sebelum tetes pertama jatuh. Ombrophobia, yang termasuk gangguan kecemasan, bisa dialami anak-anak maupun orang dewasa—dengan ekspresi yang berbeda, tetapi akar yang serupa: pengalaman traumatis dan rasa kehilangan kontrol.
Beban Psikis di Jalan
Yayat menekankan satu titik krusial: perjalanan. Banyak tekanan psikologis muncul ketika warga terjebak di jalan tanpa informasi yang memadai. “Bagaimana orang supaya tidak stres di perjalanan,” katanya, “bagaimana dia dipandu oleh informasi tentang situasi traffic-nya.” Ketika seseorang tiba-tiba terkunci dua jam atau lebih di tengah genangan, ketidakpastian menjadi musuh utama. Informasi yang jelas—tentang rute, durasi, dan alternatif—dapat meredam kecemasan sebelum ia meledak menjadi kepanikan.
Di sinilah peran sistem kota diuji. Yayat mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi DKI yang membuka layanan daring dan jalur darurat. Telepon pemadam, ambulans, serta kebijakan kerja dan sekolah daring saat banjir bukan sekadar fasilitas teknis, melainkan penyangga psikologis. Kesiapsiagaan memberi rasa aman; rasa aman menurunkan stres.




1 Komentar