Di tengah hiruk Indonesia yang lelah mengejar pengakuan, filsuf Yunani bernama Epicurus tiba-tiba terasa seperti tetangga lama yang lupa kita dengarkan.
KOSONGSATU.ID—Epicurus tak pernah mengenal gawai, algoritma, atau media sosial yang menuntut manusia selalu tampak berhasil. Ia hidup jauh sebelum notifikasi menjadi penentu suasana hati. Namun justru dari jarak itulah ajarannya memantul tajam ke zaman kita—zaman ketika kegelisahan menjadi penyakit massal, dan rasa cukup terasa seperti barang langka.
Selama ini, Epicurus kerap disalahpahami sebagai pengkhotbah kenikmatan tanpa batas. Padahal yang ia maksud justru sebaliknya. Kenikmatan, bagi Epicurus, bukan pesta, bukan kemewahan, bukan ambisi yang dipertontonkan.
Ia mendefinisikannya secara nyaris asketis: tubuh yang tidak sakit, jiwa yang tidak gelisah. Sesederhana itu. Dan justru karena kesederhanaannya, ajaran ini terasa radikal hari ini.
Jika Epicurus berjalan di kota-kota Indonesia sekarang, ia mungkin heran melihat betapa banyak orang rela menukar ketenangan dengan gengsi. Bekerja hingga kelelahan demi cicilan yang tak benar-benar dibutuhkan. Terlibat pertengkaran digital demi pendapat yang segera tenggelam esok hari.
Saling menyerang demi merasa paling benar. Semua dilakukan atas nama kebahagiaan—yang ironisnya, justru makin menjauh.
Pertanyaan Epicurus akan terdengar pelan, nyaris tak menghakimi: apakah semua itu benar-benar membuatmu tenteram?
Hasrat yang Membesar, Jiwa yang Menyempit
Epicurus membagi keinginan manusia menjadi tiga lapis: yang alamiah dan perlu, yang alamiah tetapi tak perlu, serta yang tak alamiah dan tak perlu. Masalah masyarakat hari ini bukan karena kekurangan kebutuhan, melainkan karena terlalu sibuk mengejar lapisan terakhir.
Keinginan untuk terlihat berhasil.
Diakui.
Menang debat.
Menjadi viral.
Semua itu bukan kebutuhan jiwa, melainkan sumber kegelisahan baru. Ia tidak pernah selesai dipenuhi. Semakin dikejar, semakin mencemaskan. Semakin tercapai, semakin terasa kosong.
Tak mengherankan jika banyak orang Indonesia tampak sibuk, tetapi rapuh. Ramai, tetapi kesepian. Memiliki banyak, tetapi tak pernah merasa cukup. Epicurus mengingatkan dengan nada dingin: semakin banyak keinginan yang tak perlu, semakin luas pintu penderitaan terbuka.

Kenikmatan Palsu di Era Media Sosial
Di zaman Epicurus, ketenangan dicapai dengan membatasi hasrat. Di zaman kini, hasrat justru dipelihara agar tak pernah tuntas. Media sosial bekerja dengan logika yang bertolak belakang dengan filsafat Epicurean: menanamkan rasa kurang yang terus-menerus—kurang kaya, kurang cantik, kurang berhasil, kurang diakui.
Akibatnya, kemarahan muncul tanpa sebab yang jelas. Ketersinggungan menjadi refleks. Stres hadir tanpa diketahui asalnya. Jiwa dijejali keinginan yang tak pernah dipilih secara sadar.
Epicurus tak pernah menyuruh manusia hidup miskin. Ia hanya mengingatkan satu hal yang sering kita lupakan: kebahagiaan tidak bertambah seiring bertambahnya keinginan.
Persahabatan, Bukan Sorotan
Bagi Epicurus, puncak kenikmatan hidup bukanlah harta atau reputasi, melainkan persahabatan. Duduk bersama orang-orang yang aman, yang tak mengancam, yang tak menilai. Makan sederhana. Tertawa secukupnya. Pulang tanpa beban.
Bandingkan dengan kehidupan hari ini: ribuan relasi, tetapi sedikit tempat aman untuk jujur. Banyak koneksi, namun minim ketenteraman. Mungkin kita tak kekurangan teman. Kita hanya kekurangan rasa tenang.
Indonesia yang Terlalu Tegang
Indonesia hari ini mudah panas. Beda pendapat sedikit, permusuhan mengeras. Kritik cepat dibaca sebagai serangan. Epicurus akan mengingatkan dengan kalimat yang nyaris terasa subversif: hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dalam kegelisahan yang tak perlu.
Tidak semua hal harus ditanggapi.
Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.
Tidak semua opini layak dibalas.
Kadang, memilih diam bukan tanda kalah, melainkan bentuk tertinggi dari kebijaksanaan—karena yang ingin dijaga bukan ego, melainkan ketenangan hidup.

Belajar Menikmati Tanpa Melukai
Epicurus tidak mengajarkan pelarian dari dunia. Ia mengajarkan pengelolaan keinginan, agar hidup tidak saling menyakiti. Di tengah tekanan ekonomi, sosial, dan politik yang menekan Indonesia hari ini, pesannya terdengar sederhana sekaligus radikal: bahagia itu tidak mahal. Yang mahal justru ambisi berlebihan.
Mungkin yang kita butuhkan bukan motivasi untuk selalu menjadi “lebih”, melainkan keberanian untuk berkata: cukup. Karena di situlah, ketenangan perlahan menemukan jalan pulang.***




1 Komentar