Bantuan rumah gratis tidak langsung dipercaya oleh semua calon penerima. Sejumlah keluarga mengkhawatirkan biaya tambahan dan kepastian pembangunan, menurut laporan Opshidmedia.
KOSONGSATU.ID – Warsito, pengemudi ojek online berusia 57 tahun di Semarang, sempat ragu ketika ditawari bantuan Rumah Syukur. Ia khawatir pembangunan rumah justru membuat keluarganya menanggung utang.
Bahrur Rohmad, kepala pembangunan rumah keluarga Warsito, mengatakan kekhawatiran itu mencakup kemungkinan pembangunan batal dan keluarga “kebulet utang”, istilah Jawa untuk terlilit utang.
Kisah tersebut dimuat Opshidmedia pada 5 Oktober 2026.
Rumah Warsito di Kelurahan Mugasari, Kecamatan Semarang Selatan, ditempati sejak 1991 dan belum pernah direnovasi. Menurut laporan itu, enam orang tinggal di bangunan seluas 25 meter persegi dengan tiang dan dinding kayu yang lapuk.
Bahrur mengatakan rumah tersebut perlu dibongkar seluruhnya. Namun, keluarga Warsito khawatir tidak mampu membayar tukang maupun menyediakan konsumsi pekerja.
Warsito akhirnya menerima setelah tim Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) menjelaskan bahwa seluruh biaya ditanggung penyelenggara.
Opshidmedia melaporkan rumah barunya telah berdinding bata, berlantai keramik, dan dilengkapi perabot dasar. Nilainya disebut lebih dari Rp100 juta.
Mengapa bantuan sempat diragukan?
Pengurus DPP OPSHID bidang Sosial Kemanusiaan, Aria Rahman, mengatakan calon penerima sering ragu pada awalnya. Menurut dia, kepercayaan mulai tumbuh setelah material bangunan tiba.
Kekhawatiran serupa dialami keluarga Rumat di Bojonegoro, sebagaimana dilaporkan Opshidmedia pada 10 Agustus 2024.
Keluarganya sempat takut tawaran itu merupakan tipuan atau pembangunan tidak selesai. Saat itu, Rumat berusia 84 tahun dan berjualan bawang, cabai, serta bunga untuk ziarah makam.
Menurut laporan tersebut, utang keluarga menumpuk setelah seorang anggota keluarga sakit. Putri bungsunya, Sainah, kemudian menjual rumah miliknya untuk melunasi utang.
Sekitar dua minggu sebelum peletakan batu pertama, perwakilan organisasi di lingkungan Shiddiqiyyah memberi tahu keluarga bahwa mereka akan mendapat rumah baru.
Setelah pembangunan selesai, Sainah mengaku masih sulit percaya.
“Semuanya kayak mimpi dapat rumah seperti ini,” katanya.
Di Kediri, Sumari juga sempat ragu. Opshidmedia pada 20 Oktober 2023 menyebut desanya telah tiga kali melakukan survei dan mengajukan perbaikan rumah kepada pemerintah, tetapi belum ada tindak lanjut.
Ia akhirnya menerima tawaran OPSHID setelah mendapat penjelasan bahwa pembangunan akan diselesaikan.
Siapa yang menanggung biaya?
Menurut OPSHID, Rumah Syukur menanggung seluruh biaya pembangunan, termasuk tenaga kerja dan konsumsi.
Skema itu berbeda dengan bantuan bedah rumah pemerintah yang bersifat stimulan. ANTARA Bali pada 10 Agustus 2026 mengutip Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait yang menyebut bantuan Rp20 juta perlu didukung gotong royong, tenaga, dan barang.
Perbedaan skema tersebut tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa bantuan pemerintah menyebabkan penerima berutang atau rumah tidak selesai.
Kisah Warsito, Rumat, dan Sumari bersumber dari Opshidmedia, media yang berafiliasi dengan OPSHID. Laporan-laporan itu belum memuat jumlah calon penerima yang menolak atau mengundurkan diri. Kekhawatiran mereka juga belum menjadi bukti adanya kasus utang akibat program bantuan rumah lain.***




Tinggalkan Balasan