Satu belajar di sana pada 1997, satu lagi pada 2009. Kini dua alumni MANPK Solo itu membawa madrasah swasta yang mereka pimpin ke podium TKA Jawa Tengah.

KOSONGSATU.ID – Dua alumni Madrasah Aliyah Negeri Program Keagamaan (MANPK) Solo mengantar madrasah swasta yang mereka pimpin ke podium Tes Kemampuan Akademik (TKA) se-Jawa Tengah. Keduanya sama-sama berasal dari Sragen.

MA Nurul Huda Gondang di bawah Mohamad Sholihin meraih Terbaik Pertama. MA Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen (DIMSA) yang dipimpin Fuad Ibrahim menempati Terbaik Ketiga.

Penghargaan itu diserahkan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sragen, Fatchur Rochman, dalam apel pagi di halaman kantornya, Senin (5/10/2026). Ia menilai capaian itu lahir dari pengelolaan yang berada di tangan orang yang tepat.

“Kami sangat bangga dan mengapresiasi tinggi jajaran kepemimpinan MA Nurul Huda Gondang serta MA Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen,” kata Fatchur.

Tempaan dari Kawah Candradimuka

Orang yang tepat itu ternyata ditempa di tempat yang sama. MANPK Solo merupakan program khusus di MAN 1 Surakarta yang dibuka pada 1990 berdasarkan SK Menteri Agama Nomor 138 Tahun 1990.

Program ini merupakan gagasan Menteri Agama Munawir Sjadzali sejak 1987. Tujuannya mencetak kader ulama yang intelek, yakni lulusan yang fasih membaca kitab kuning sekaligus membaca zaman.

Tempaannya terkenal keras. Siswa ditargetkan membaca literatur Arab dan Inggris serta menghafal minimal tiga juz Al-Qur’an. Pelajaran agama bahkan disampaikan dalam bahasa Arab.

Sholihin menempuh pendidikan di sana sebagai angkatan 1997, saat program itu bernama Madrasah Aliyah Keagamaan. Fuad menyusul pada angkatan 2009, setelah namanya berganti menjadi Program Keagamaan.

Rentang 12 tahun itu tidak memutus benang merahnya. Jejaring alumni MANPK kini tersebar luas, termasuk di struktur Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2026–2031.

Jejak di Ruang Kelas

Di Gondang, jejak tempaan itu terlihat dari jalur karier Sholihin. Sebelum memimpin, ia tercatat mengajar Bahasa Arab di MA Nurul Huda, madrasah di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Huda.

Di bawah kepemimpinannya, lima siswa madrasah itu menembus Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat provinsi pada pertengahan tahun ini. Mereka menjadi satu-satunya wakil MA dari Sragen.

Kisah Fuad tidak kalah menarik. DIMSA baru menerima izin operasional dari Kemenag pada Juni 2022, dan Fuad memimpinnya sejak awal.

Visi yang ia usung terdengar seperti gema MANPK. Saat madrasahnya meraih akreditasi A pada akhir 2024, Fuad menyebut target mencetak kader ulama Muhammadiyah yang berakhlak mulia, berjiwa kepemimpinan, dan berwawasan global.

Hasilnya mulai terukur. Pada TKA 2025, DIMSA mencatat rerata skor 144,13 dan menembus daftar 20 sekolah Muhammadiyah terbaik nasional.

Capaian kedua madrasah itu berdiri kontras dengan potret nasional. Hasil TKA 2025 jenjang SMA/MA mencatat rerata Matematika wajib hanya 36,10 dan Bahasa Inggris 24,93.

Ujian berikutnya sudah menanti. Kemenag mencatat 495.084 siswa MA mendaftar TKA 2026, dengan hasil yang dijadwalkan diumumkan pada 23 Desember 2026.

Bagi Sholihin, podium bukan garis akhir. Saat siswanya menembus OSN provinsi, ia menegaskan pembinaan tidak akan berhenti.

“Kami akan terus memberikan pembinaan dan pendampingan agar mereka dapat meraih hasil terbaik hingga tingkat nasional,” kata Sholihin kala itu.***