Pembangunan Perpustakaan Tashawwuf Jombang menyambung warisan emas literasi Islam layaknya Bait al-Hikmah. Proyek ini sarat makna sejarah dan pesan spiritual mendalam.

KOSONGSATU.ID-Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi memimpin langsung peletakan batu pertama pembangunan Perpustakaan Tashawwuf di Jombang, Kamis (10/09/2026).

Proyek monumental ini menonjolkan arsitektur pesantren yang sarat makna. Langkah tersebut menghidupkan kembali tradisi kejayaan literasi Islam masa lampau.

Gedung baru Perpustakaan Tashawwuf mengambil jalur konstruksi modern dengan desain yang berbeda dari bangunan pesantren sebelumnya. Berdiri di atas lahan berukuran 180 x 90 meter, rancangannya sengaja dibuat tidak simetris dan meliuk-liuk.

Arsitektur tersebut menyerupai mekarnya bunga Wijaya Kusuma yang menawan. Konsep ini menuntut tingkat presisi tinggi dari seluruh tim teknis di lapangan. “Gedung ini dirancang dengan konsep yang sangat istimewa,” kata Penanggung Jawab Lapangan Mizanul Khoir.

Warisan Peradaban Dunia

Selain itu, inisiatif literasi di Jombang ini mewarisi napas keilmuan Islam klasik. Sejarah mencatat peran monumental perpustakaan Bait al-Hikmah di kota Baghdad, Irak. Pusat keilmuan tersebut sukses mempertemukan para cendekiawan lintas agama pada satu ruang.

Khalifah al-Makmun memperluas koleksi dengan naskah dari Romawi hingga Bizantium. Para ahli digaji tinggi untuk menyalin serta menerjemahkan buku ke bahasa Arab. Kebijakan progresif ini berhasil merawat keberagaman sekaligus memajukan peradaban global.

Di benua Afrika, Fatima El-Fihriya membangun Perpustakaan Al-Qarawiyyan pada 859 Masehi di Maroko. Tempat ini merawat ribuan naskah kuno astronomi hingga hukum Islam. Bangunan tersebut kini tercatat sebagai lembaga pendidikan operasional tertua di dunia.

Laboratorium Praktik Santri

Pembangunan perpustakaan megah senantiasa menuntut ketelitian teknis yang mumpuni. Hal serupa terlihat pada rehabilitasi Al-Qarawiyyan oleh Arsitek Aziza Chaouni. Proyek di Jombang pun menuntut standar keahlian serupa dari seluruh relawan pembangunannya.

Pembangunan monumen ini melibatkan partisipasi jemaah dari berbagai wilayah Nusantara. Lokasi proyek berubah menjadi kawah candradimuka untuk menyerap keterampilan teknis. Harapannya, relawan menguasai ilmu sipil secara praktis.

Pembangunan fisik perpustakaan ini berjalan seiring dengan pembentukan kemandirian masyarakat. Relawan menjadikan proses kerja lapangan sebagai medium beramal. “Di sini kita semuanya belajar menyerap ilmu, agar nanti di masyarakat bisa melaksanakan pembangunan,” kata Penanggung Jawab Pembangunan Matsari.

Dinamika dan Ketahanan Shiddiqiyyah

Perjalanan Pesantren Shiddiqiyyah dalam membangun pusat literasi ini tidak lepas dari dinamika sosial. Alih-alih meredup, tantangan tersebut justru memacu pesantren melahirkan karya nyata. Kemandirian umat menjadi fondasi utamanya.

“Ditendang Malah Berkembang”

Pembangunan fasilitas monumental ini menjadi jawaban atas berbagai ujian yang pernah dihadapi pesantren di masa lalu. Konsistensi bergerak di bidang pendidikan membuktikan ketahanan institusi pesantren tersebut.

“Semuanya orang luar takjub, meniru tidak bisa. Dikecam, dimusuhi, digeruduk, tetap pembuktian terbalik. Dimatikan oleh orang-orang yang tidak paham, Shiddiqiyyah hidup subur,” kata Syekh Moch. Mukhtarullohil.

“Dibusukkan Malah Harum”

Keberadaan Perpustakaan Tashawwuf kini menjadi simbol perlawanan tanpa kekerasan yang mengedepankan intelektualitas. Berbagai tekanan sosial justru bermuara pada penguatan jaringan antarjemaah di berbagai daerah.

“Ditekan ke bawah muncul menjulang langit, dibusuk-busukkan beberapa bulan, harum semerbak se-Indonesia. Jadi terbalik terus. Akan ditamatkan riwayatnya, malah sempurna,” tambahnya.

Ikhlas Sebagai Roh Amal

Kemegahan gedung perpustakaan ini tidak akan bernilai tanpa niat yang bersih dari para pekerjanya. Fondasi spiritual relawan menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar dalam tradisi pesantren.

“Di ajaran tasawuf itu, ikhlas itu rohnya amal. Shalat, haji, umrah, zakat, sedekah berapapun tanpa ikhlas, bubar, fatamorgana. Insyaallah kalau kita itu ikhlas karena Allah Ta’ala, itulah yang akan mendapat rida Allah,” tutur Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujataba Mu’thi.***