Daripada meributkan beda proyeksi ekonomi BI dan pemerintah, mari belajar menyeimbangkan tingginya harapan dengan rem realitas, sebab sebaik-baiknya angka di atas kertas takkan bermakna tanpa laku yang nyata.
KOSONGSATU.ID — Mari kita merenung sejenak. Belakangan ini, ruang publik kita diramaikan oleh dua kutub narasi tentang nasib ekonomi kita di tahun 2026.
Di satu sisi, pemerintah menyalakan api optimisme dengan target pertumbuhan yang menjulang tinggi. Namun di sisi lain, Bank Indonesia (BI) merilis angka yang lebih “dingin” dan menapak bumi: maksimal 5,7 persen.
Banyak orang lalu bingung dan mulai berpolemik. Ada yang menuduh BI terlalu pesimis, ada pula yang mencibir pemerintah terlalu berkhayal.
Nah, daripada kita ikut-ikutan ribut dan menghabiskan energi untuk berdebat di media sosial—yang sering kali hanya melahirkan kebingungan baru—mari kita dudukkan persoalan ini pelan-pelan dengan kacamata filsafat.
Membedah Variabel ala Descartes: Jangan Tergesa-gesa Menyimpulkan
Dalam filsafat, tokoh rasionalisme René Descartes mengajarkan sebuah metode yang disebut Method of Doubt (Skeptisisme Metodis). Prinsipnya sederhana: jangan tergesa-gesa menelan sebuah informasi bulat-bulat sebelum kita memilah dan menguji variabel-variabel di baliknya. Jangan bereaksi hanya karena luapan emosi.
Kenapa BI mematok angka maksimal 5,7 persen? Kalau kita bedah menggunakan nalar Descartes, BI sedang beroperasi pada variabel-variabel riil yang ada di lapangan.
Sebagai otoritas moneter, BI menghitung ketidakpastian arus modal asing, inflasi, suku bunga global, hingga daya beli masyarakat yang sedang fluktuatif.
Kalkulasi ini sifatnya prudential (kehati-hatian). BI tidak sedang bersikap pesimistis, melainkan sedang melakukan mitigasi risiko. Mereka meletakkan rem sebelum kendaraan melaju terlalu kencang di jalan yang licin.
Jarak Ekspektasi dan Realitas: Kacamata Stoa dan Camus
Perbedaan angka antara BI dan pemerintah sebenarnya wajar jika kita pahami fungsinya masing-masing. Di sinilah filsafat Stoikisme masuk.




Tinggalkan Balasan