Berdasarkan riset mutakhir bertajuk “The Dioscorea Genus (Yam)—An Appraisal of Nutritional and Therapeutic Potentials” yang dipublikasikan oleh J.E. Obidiegwu dan tim pada tahun 2020, uwi atau Dioscorea alata terbukti memegang peran penting bagi kedaulatan pangan global. Tanaman umbi merambat ini merupakan pangan fungsional padat nutrisi yang dampaknya secara langsung mampu memperbaiki kesehatan sistemik masyarakat.

KOSONGSATU.ID – Tanaman bersayap yang mampu merambat hingga 10 meter dengan daun berbentuk hati ini memiliki umbi dengan variasi warna daging—mulai dari putih, krem, hingga ungu pekat—yang sangat kaya akan antioksidan. Dalam setiap 100 gram uwi, tersimpan nutrisi berupa pati resisten dan beragam vitamin esensial.

“Uwi ungu mengandung antosianin terasilasi yang stabil terhadap panas. Senyawa ini, bersama diosgenin, sangat krusial dalam regulasi hormon tubuh manusia,” papar Obidiegwu dalam laporannya.

Pelindung Reproduksi Wanita

Terkait kesehatan reproduksi, tinjauan literatur bioaktivitas oleh M. Jesus dkk. (2016) dan kajian fitoestrogenik lainnya mengonfirmasi bahwa diosgenin dalam uwi bertindak sebagai modulator reseptor estrogen selektif. Mekanisme alami ini terbukti efektif meredakan gejala menopause, seperti sensasi panas mendadak (hot flashes). Efeknya juga bekerja prima dalam menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan jaringan vaskular.

“Diosgenin menstimulasi kepadatan tulang tanpa memicu sel patologis pada payudara. Sifat selektif ini menjadikannya tonik reproduksi yang sangat aman bagi wanita,” ujar peneliti memaparkan mekanisme perlindungan tersebut.

Secara tradisional, uwi juga telah lama diandalkan sebagai pemulih energi dan peningkat laktasi pascamelahirkan. Kandungan magnesiumnya terbukti efektif meredakan nyeri haid, sementara bagian umbi udara dari tanaman ini berkhasiat untuk mengatasi jerawat hormonal.

Nutrisi Otak dan Prebiotik Usus

Manfaat neuroprotektif pada uwi ungu terbukti sangat vital bagi fungsi kognitif lansia. Mengutip riset efikasi antosianin oleh Ali Shah dkk., antosianin uwi secara unik mampu menembus sawar darah otak untuk menetralisir radikal bebas. Kinerja spesifik ini efektif menghambat plak protein yang menjadi pemicu penyakit Alzheimer.

Lansia sangat dianjurkan untuk mengonsumsi 100 hingga 150 gram uwi panggang setiap hari. Penyerapan polifenol ke dalam otak akan lebih maksimal apabila uwi dipadukan dengan lada hitam dan kacang kenari. Vitamin B6 di dalamnya juga turut aktif mendukung sintesis neurotransmiter.

Hal yang perlu diperhatikan, uwi mentah mengandung kristal kalsium oksalat pemicu iritasi sehingga wajib dimasak hingga matang sempurna, yang sekaligus berfungsi mencegah reaksi pencokelatan (browning) berlebih pada produk olahannya. Setelah matang, riset F. Chen dkk. (2019) dalam Food & Function membuktikan bahwa pati resisten pada uwi ungu secara masif memproduksi asam butirat (SCFA) di usus besar. Proses fermentasi ini secara langsung memperkuat dinding usus dari patogen berbahaya.

“Baik diolah menjadi bubur prebiotik maupun tepung tahan simpan, pemanfaatan uwi harus terus didorong untuk mengoptimalkan ketahanan kesehatan publik,” pungkas para peneliti menutup paparannya.***