Kementerian Kesehatan mengakselerasi adopsi teknologi bedah robotik berbasis kecerdasan buatan di RS rujukan nasional. Menkes Budi pastikan dokter tetap menjadi pengambil keputusan utama.

KOSONGSATU.ID – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan rencana pemerintah mengakselerasi adopsi teknologi bedah robotik berbasis kecerdasan buatan di rumah sakit rujukan nasional. Langkah ini diambil guna memodernisasi sekaligus meningkatkan presisi tindakan medis di Indonesia.

Mengenai integrasi kecerdasan buatan tersebut, Kemenkes mengombinasikan keahlian medis dan penguasaan teknologi terapan lewat kerja sama strategis. Pemerintah menggandeng jaringan rumah sakit swasta serta Institut Teknologi Bandung untuk mempercepat kesiapan infrastruktur kesehatan.

“Pemerintah mengakselerasi adopsi teknologi bedah robotik berbasis AI di rumah sakit rujukan nasional,” kata Budi Gunadi Sadikin di Jakarta pada Minggu, 26 Juli 2026. “Namun perlu ditegaskan, AI dan robotik ini berfungsi sebagai alat pendukung untuk meningkatkan presisi tindakan medis. Dokter bedah tetap memegang kendali penuh dan menjadi pengambil keputusan utama dalam seluruh proses eksekusi operasi.”

Pembentukan Pusat Pelatihan Nasional

Selain meningkatkan akurasi prosedur bedah minimal invasif, penggunaan teknologi ini diproyeksikan mampu mengurangi risiko pendarahan serta mempercepat masa pemulihan pasien. Durasi rawat inap yang lebih singkat juga berpotensi menekan biaya perawatan jangka panjang yang ditanggung jaminan kesehatan nasional.

Sebelumnya, ITB menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi transfer teknologi dan sertifikasi bagi tenaga medis di seluruh Indonesia. Langkah ini diambil agar pasien di daerah tidak perlu menumpuk di kota besar atau berobat ke luar negeri.

“Kolaborasi ini menyasar target pembentukan pusat pelatihan bedah robotik nasional,” kata Tim Riset dan Pengembangan ITB pada Minggu, 26 Juli 2026, sebagaimana dikutip dari CNN Indonesia. “Fasilitas ini akan menjadi wadah transfer pengetahuan dan sertifikasi agar para dokter, termasuk yang berada di wilayah daerah, dapat mengoperasikan teknologi AI medis ini secara aman dan terstandar.”***