Setelah 11 tahun menghilang dari panggung kompetisi, Teater Topeng 97 memilih rute menantang untuk comeback mereka. Grup ini mengangkat epik Laksamana Keumalahayati, panglima armada Inong Balee, lewat lakon bertajuk Keumalahayati: Sumpah Darah Inong Balee. Pentas ini memeriahkan panggung Festival Teater Pelajar (FTP) DKI Jakarta 2026.

KOSONGSATU.ID – Sebagai catatan, akar ajang teater pelajar di ibukota ini bermula dari Festival Teater Remaja Jakarta (FTRJ) gagasan Wahyu Sihombing dan Dewan Kesenian Jakarta pada 1973—yang kelak berkembang menjadi Festival Teater Jakarta (FTJ).
Sejak embrio tersebut lahir hingga tahun 2026 ini, tradisi pembinaan teater usia muda telah konsisten bertahan melintasi kurang lebih 53 edisi.
Duka yang Menemukan Arah
Sejak lampu pertama menyorot panggung, penonton langsung menyadari bahwa ini bukan sekadar drama sejarah biasa. Cerita bermula di tepi Selat Malaka pada 1521. Belasan perempuan muncul satu per satu menenteng lentera, lalu duduk berserakan di hamparan pantai. Mereka tidak membentuk formasi rapi, melainkan tampak seperti orang-orang yang baru saja jatuh terjerembap dan lupa cara untuk kembali berdiri.
Nun di sudut kiri belakang, seorang inong bersenandung miris, mencoba menerjemahkan perih hati para istri yang teriris luka dan tersiram air garam. Mereka adalah para janda (inong balee) sisa perang besar melawan armada Portugis. Dari tengah kegelapan itulah sosok Keumalahayati melangkah maju, menggenggam erat rencong milik mendiang suaminya, Zainal Abidin.
Adegan pembuka tersebut sukses membangun fondasi emosional ke keseluruhan cerita. Sutradara tidak memuntahkan kemarahan yang meledak-ledak, tetapi menampilkan duka yang perlahan menemukan arah. Ketika Keumalahayati berseru mengajak para janda membentuk pasukan Inong Balee, para pemain merespons dengan bangkit satu demi satu. Gerakan kolektif yang berpadu dengan tabuhan perkusi Aceh dari kejauhan ini menciptakan salah satu momen paling magis malam itu.
Catatan Kritis pada Elemen Musikal
Meski cukup berhasil mengawal beberapa adegan krusial, aransemen musik garapan Cakranada Etnonesia sayangnya belum fasih menyelami kedalaman notasi khas Aceh. Pada adegan pasar, misalnya, nuansa pertunjukan terasa sangat kekinian karena pilihan notasi yang terlalu pop. Padahal, musik tradisional Aceh memiliki akar kuat yang bertaut erat dengan pengaruh Islam dan Timur Tengah.




Tinggalkan Balasan