Perubahan dunia tidak bisa digantungkan pada janji-janji luar, melainkan harus dimulai dari perbaikan diri sendiri. Lawan segala bentuk kekerasan dan demoralisasi publik dengan integritas serta kedalaman batin.

KOSONGSATU.ID — Hari-hari ini, jika kita mengamati panggung politik, media sosial, maupun kehidupan bermasyarakat, terasa ada satu krisis besar yang menyelimuti tatanan sosial kita, yakni pudarnya etika dan kemanusiaan.

Kita menyaksikan betapa mudahnya orang mengumbar caci maki, menyerang secara verbal, hingga melakukan kekerasan fisik hanya demi membela kelompok atau kepentingannya sendiri. Di satu sisi, peradaban kita tampak sangat maju secara teknologis dan ilmiah. Namun di sisi lain, tatanan sosial sering kali rapuh karena minus karakter dan kering dari nilai-nilai nurani.

Untuk merespons problem ini, kita dapat memadukan pemikiran Mahatma Gandhi mengenai etika aksi sosial dengan analisis Henri Bergson tentang moralitas masyarakat. Gandhi pernah merumuskan tujuh penyakit sosial yang dapat menghancurkan suatu bangsa, yakni politik tanpa prinsip, bisnis tanpa moralitas, pengetahuan tanpa karakter, sains tanpa kemanusaian, kekayaan tanpa kerja keras, kesenangan tanpa nurani, serta ketakwaan tanpa penyangkalan diri.

Ketika politik hanya dijadikan ajang meraih kekuasaan tanpa moral, atau ketika sains dipisahkan dari empati kemanusiaan, maka kehancuran sebuah negara hanya tinggal menunggu waktu. Fenomena ingin kaya secara instan lewat judi daring atau penipuan finansial adalah bukti nyata dari maraknya praktik kekayaan tanpa kerja di tengah masyarakat.

Kerentanan sosial ini semakin diperparah oleh pola interaksi yang didorong oleh moralitas tertutup. Henri Bergson menjelaskan bahwa moral tertutup bekerja atas logika pembatas antara kelompok sendiri dan kelompok luar. Aturan moral hanya berlaku untuk lingkaran sendiri, sementara orang di luar kelompok dianggap asing bahkan musuh, sehingga memicu fanatisme kaku dan rasa benci terhadap perbedaan.

Sebaliknya, Bergson menawarkan moral terbuka yang didasarkan pada kesadaran bahwa seluruh manusia adalah setara. Kita memang membutuhkan moral tertutup untuk menjaga identitas, namun kita sangat memerlukan moral terbuka agar dapat berinteraksi secara damai dengan seluruh umat manusia. Rasionalitas dan kedalaman batin menjadi jembatan agar kita tahu kapan harus memegang identitas dan kapan harus bersikap universal.

Melawan Kekerasan Lewat Satyagraha dan Menjadi Perubahan Riil

Dalam merespons kekerasan yang marak terjadi, Gandhi memberikan dua pijakan utama, yaitu Satyagraha atau berpegang teguh pada kebenaran, serta Ahimsa atau sikap menolak keinginan untuk menyakiti dan membenci orang lain. Gandhi menegaskan bahwa ia menolak kekerasan karena ketika kekerasan tampak membawa kebaikan, kebaikan itu hanya bersifat sementara, sedangkan kejahatan yang ditimbulkannya bersifat permanen.